Jumat, 20 April 2012
Masuk bos
Game yang dibangun di platform Windows Phone ini telah di-download oleh 300 ribu pengguna dan dimainkan 1 juta kali per hari.
Yang menarik, tingginya penghasilan game ini berasal dari ponsel Nokia yang baru beberapa bulan mengusung platform Windows Phone.
Sebenarnya, FourBros telah merilis game gratis ini sekitar satu tahun yang lalu namun pendapatan mereka baru melonjak sejak Nokia meluncurkan ponsel Windows Phone.
Berkat Nokia Lumia, kini FourBros memperoleh pendapatan rata-rata 1000 dollar AS per harinya.
Pendapatan FourBros ini berasal dari iklan. Untuk menjaga agar aplikasi game ini tetap dapat dinikmati secara gratis, Fourbros memang memasukkan iklan.
Layanan iklan yang digunakan oleh FourBros adalah pubCenter dari Microsoft dan AdDuplex.
Iklan didapatkan dari penghitungan impression (sebanyak apa game diakses setiap hari). Makin sering dan makin banyak game diakses, maka pengiklan harus membayar lebih banyak).
Sebelumnya, pendapatan yang mereka raih bisa disebut biasa-biasa saja. Namun setelah Nokia merilis Lumia 800 dan Lumia 710, pendapatan FourBros melonjak dratis, terutama dari iklan yang berasal dari AdDuplex.
Meski demikian, pengguna game Taptitude saat ini masih didominasi pengguna ponsel HTC, karena banyaknya varian ponsel Windows Phone yang dimiliki HTC.
Sedangkan Nokia sendiri yang baru mempunyai dua model Windows Phone berada pada posisi kedua terbesar pengguna game Taptitude.
Game Taptitude merupakan mini game yang cukup sederhana. Setiap kali poin bertambah, maka pemain bisa melakukan "unlock" game baru. Hingga kini, sudah ada 60 game yang ditawarkan oleh FourBros di dalam Taptitude ini.
Fakta ini merupakan salah satu contoh bahwa ponsel berbasis Windows Phone ternyata juga bisa menjadi tempat untuk mengembangkan aplikasi dan menghasilkan uang.
Developer atau pengembang aplikasi yang masih ingin mencoba hal baru, bisa mencoba untuk membuat aplikasi di format Windows Phone yang baru satu tahun diluncurkan ini.
Selasa, 27 Desember 2011
Orang yang Menyumbang Emas Tugu Monas
Ternyata 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam, salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.

Orang-Orang hanya tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu.
Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda.
Teuku Markam turunan uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat).
Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.
Peran Teuku Markam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah dana untuk keperluan KTT itu.
Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.
Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan.
Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen – Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-lain.
Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam “dianggap” angin lalu.
Masjid Pejlagrahan, Cirebon
Masjid pejglagrahan pada awalnya adalah sebuah tajug yang digunakan untuk leren (istirahat) maupun salat para nelayan yang ada di Cirebon pada abad ke-XV Masehi. Awalnya masjid ini persis berada di pinggir pantai dan pelabuhan muara jati. Seiring berjalannya waktu, pantai mulai menjauh dan sekarang masjid ini berada di tengah pemukiman penduduk. Konon, masjid ini juga merupakan cikal bakal Kraton Cirebon dan Masjid Kasepuhan. Kini, masjid ini berada di luar tembok Kraton.
Pada bagian luar manuju masjid terdapat papan info bahwa masjid ini berupakan benda cagar budaya, tetapi tidak dijelaskan BCB golongan berapa.
Tata ruangnya, selain ruang utama terdapat ruang pewastren pada bagian kanan masjid. Kedua ruangan tersebut di hubungkan dengan sebuah pintu pendek yang sekarang sudah jarang dibuka.
Ruang utama dengan mimbar dan mihrabnya hanya selebar 3 meter. Sebuah pintu regol menghubungkan antara ruang tengan dan ruang utama. Untuk salat rawatib hanya digunakan ruang tengah.
Pada dinding-dinding ruang tengah terdapat beberapa keramik dengan sedikit inskripsi. Keduanya diduga baru alias bukan unsure awal sejak pendirian masjid tersebut.
Masjid ini terletak di jl. Kesunenan tepatnya disebelah utara tembok kraton Kasepuhan.
(Hakim Syukrie)
Masjid Pangeran Kejaksan, Cirebon.
Masjid ini merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di Cirebon. Terletak di Jalan Karanggetas, Cirebon. Hanya beberapa meter dari PGC (Pusat Grosir Cirebon) Pasar Baru Cirebon. Menuju masjid ini ada sebuah papan yang menunjukkan bahwa masjid ini merupakan cagar budaya Cirebon.
Masjid Pangeran Kejaksan didirikan oleh Pangeran Kejaksan. Beliau adalah salah satu dari 4 anak Sultan Baghdad yang diperintahkan oleh ayahnya untuk belajar Islam di Tanah Jawa. Mereka adalah Syarif Abdurahman, Syarif Abdurahim, Syarif Kafi an Syarifah Baghdad. Mereka berguru kepada Syeikh Dahtul Kahfi atau syeikh Nurjati.
Berdasarkan Badad Cirebon, Mereka memenita 4 kapal untuk masing-masing. Tiap kapal memuat 300 orang. Setelah sampai di Cirebon, mereka naik ke Darat bersama 1.200 orang tersebut. Mereka langsung mejunu Gunung Jati, mereka member hormat kepada Syeikh Nur Jati. Setelah berguru, mereka oleh Ki Kuwu Cirebon diberi tempat pemukiman di sebelah utara. Syarifah Baghdad dan Syarif Kafi mengajarkan al-Qur’an di Masyarakat, Syekh Abdurrahman Menekuni bidang seni dan Syeikh Abdurahim menemuki agama dan berkarier sebagai jaksa. Beliau mengurus agama dan drigama (urusan duniawi) karenanya kemudian disebut sebagai pangeran Kejaksan. Adapaun masjid yang beliau dirikan dinamakan sebagai Masjid Kejaksan.
Masjid ini merupakan salah satu masjid yang dibangun pada masa awal penyebaran Islam di Cirbon abad ke-XV Masehi. Pada beberapa bagian sudah mengalami pemugaran, terutama pada bahan bangunan bagian luar (teras). Pada bagian dalam masih dipertahankan struktur aslinya. (Hakiem Syukrie)
Masjid Kramat Depok, Cirebon. Abad ke-XV M
dari tengah sawah
Terletak di Desa Depok Kecamatan Depok yang dulu termasuk wilayah Kecamatan Plumbon. Menurut penuturan penjaganya, masjid ini lebih dulu dibangun dibandingkan bangunan masjid Kasepuhan yang ada di Cirebon. Dibangun oleh penyebar Islam sebelum Sunan Gunungjati (awal Abad ke-XV Masehi). Hal ini diperkuat penuturan penjaga masjid tua lainnya yaitu Masjid Pesalakan. Bahwa menurut tulisan dari sultan Sepuh kepada rombongan dari Cikarang yang ingin melihat masjid tertua di Cirebon, ditunjukkan tiga masjid pertama Masjid Pesalakan, Masjid Megugede Plered dan Masjid al-KAromah Depok.
Masjid ini memiliki kesamaan arsitektur dengan beberapa bangunan masjid tua lainnya di Cirebon. Pada bagian luar dilingkari tembok dari bata mereh dengan satu pintu utama dan dua pintu samping. Semua pintu masuk tersebut tidak terlalu tinggi untuk dilewati orang dewasa. Pada bagian dalam terdapat ruang utama dan ruang pawestren. Ruang utama juga memiliki ketinggian yang rendah antara atap dengan latai. Mihrabnya berupa bagian dinding yang menjorok ke depan persegi empat. Dengan mimbar dari kayu jati yang masih asli beserta sebuah cis (tongkat besi).
Ruang dalam Masjid tua Depok Cirebon
Ruang utama masjid ini dibatasi dengan tembok yang tidak menyangga atap. Salah satu cirri masjid tua yang ada di Cirebon. Dengan ruang untuk wanita pada bagian kiri masjid.
Untuk menuju masjid ini, dari arah Cirebon bisa turun di pasar Jamblang kemudian menggunakan angkot ke Depok atau menggunakan Ojek kea rah selatan sekitar 8 Kilometer. Masjid ini terletak dipinggir sungai dan di tengah sawah. Relative jauh dari permukiman penduduk.(Hakim Syukrie)
Lingkungan dan Kelanggengan Sebuah Negara
KERAJAAN Majapahit, 1293-1500 (2,07 abad); Kerajaan Kediri, 1042-1222 (1,8 abad); Kerajaan Singosari, 1222-1292 (70 tahun); Kerajaan Sunda, 669-1579 (9,1 abad). Dari fakta sejarah ini pertanyaan yang muncul adalah kenapa Kerajaan Sunda dapat bertahan 9 abad lebih sedangkan kerajaan lainnya di Pulo Jawa, termasuk Kerajaan Majapahit yang termashur, tidak lebih dari 2,5 abad?
Hingga saat ini parasejarawan di Jawa Barat belum ada yang bisa memberi penjelasan atau argumen mengenai kejayaan Kerajaan Sunda. Kalaupun ada yang mencoba membahasnya pada umumnya hanya bertumpu pada ilustrasi sipat orang Sunda yang tidak rakus kekuasaan, sehingga di Kerajaan Sunda tidak pernah terjadi perang memperebutkan kerajaan.
Sudah barang tentu argumen tersebut tidak cukup untuk menjelaskan mengenai apa yang menyebakan Kerajaan Sunda yang dapat bertahan selama 9 abad lebih itu. Bahkan memunculkan pertanyaan baru: Kenapa orang Sunda tidak tergiur oleh kekuasaan? Kenapa orang Sunda tidak memperdulikan tahta atau kedudukan, setidaknya sampai jatuhnya Kerajaan Sunda?
Untuk menjawab pertanyaan kenapa Kerajaan Sunda dapat bertahan selama 9,1 abad, dugaan (hipotesa) lain yang patut dikedepankan adalah: karena paktor alam. Di wilayah Kerajaan Sunda yang meliputi Jakarta, Banyumas, dan sebagian daerah Brebes, terdapat banyak gunung berapi sehingga tanahnya subur, daerahnya berbukit-bukit yang memberikan air berlimpah ruah pada penduduk.
Dengan kata lain, alam di wilayah Kerajaan Sunda memudahkan orang Sunda untuk menjalani kehidupan dengan baik dan teratur, termasuk dalam hal mementukan tara ruang. Alam telah memberikan segala-galanya pada orang Sunda termasuk keindahan pemandangannya. Ada pernyataan yang termashur: Tuhan menciptakan Priangan sambil tersenyum.
Jaman Kerajaan Sunda, raja-raja Sunda sangat memperhatikan sekali lingkungan, demikian juga kerajaan-kerajan bagian (Kerajaan Sunda menganut sistem seperti negera federal sekarang, tidak memusatkan kekuasaan pada satu tempat atau satu tangan, tidak seperti di kerajaan di Jawa). Bahkan di salahsatu kerajaan bagian, rajanya memberlukan hukuman mati bagi yang merusak alam.
Naskah kuna Carita Parahyangan (CP) tatkala menggambarkan keberhasilan Prabu Wastukancana dalam memimpin Kerajaan Sunda menulis begini (terjemahaan): Air, cahaya, angin, langit, dan bumi pun merasa senang berada dalam genggaman pelindung dunia. Ini mengandung arti para panguasa Sunda memperlakukan alam dengan baik. Mereka sangat mengerti pada keadaan alam di wilayahnya.
Karena itu, jaman Kerajaan Sunda, di Tatar Sunda menurut beberapa peminat sejarah, tidak pernah terjadi bencana alam, banjir, longsor dan sebagainya. Perobahan iklim dunia tidak terasa di Tatar Sunda, karena Tatar Sunda mempunyai iklim mikro yang mampu membendung pengaruh iklim global. Meskipun dalam hal gunung meletus, data geologi menunjukkan di wilayah Tatar Sunda pernah terjadi.
Keadaan alam Tatar Sunda berbeda dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Naskah kuna Pararaton, sumber sejarah penting di Jawa Timur, beberapa kali menyebutkan terjadinya gunung meletus saat di Majapahit berkecamuk perang Paregreg sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan menurut Pararaton, Majapahit pernah dilanda krisis pangan yang sangat parah.
Parageolog menduga di wilayah Majapahit pernah terjadi musibat seperti lumpur Lapindo sekarang. Konon Sungai Berantas juga alirannya berpindah, padahal sungai tersebut urat nadi perekonomian jaman itu. Karena itu bisa disebutkan kejatuhan Majapahit bukan hanya semata-semata terjadi perang saudara memperebutkan tahta dan kekuasaan, tetapi juga karena paktor, termasuk bencana alam.
Akan tetapi, karena manusia sekarang ini tidak mampu membaca dan memaknai sejarah, di Tatar Sunda alam dan lingkungan tidak dijaga dengan baik, malah sebaliknya dirusak habis-habisan. Jawa Barat pun menjadi daerah yang paling rawan bencana: longsor, musim kemarau terjadi kekeringan sehingga lahan pertanian kekurangan air, dan pada musim hujan banjir selalu menjadi persoalan.
Sisa-sisa kearifan parapendahulu Sunda tentang alam dan lingkungan, masih dapat dijumpai di masyarakat adat: di Kanekes (Baduy), Kampung Naga, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Ciptagelar, dan Kampung Cikondang. Mereka menjalankannya dengan konsisten sehingga hutan lindung (leuweung tutupan) yang mereka miliki terjaga kelestariannya.
Berkaitan dengan keadaan alam dan lingkungan secara nasional, kita dapat menaruh tanda tanya besar di belakang kata Indonesia. Negara kita sudah berumur 65 tahun (1945-2010). Jika kerusakan alam dan lingkungan semakin menjadi-jadi dan tidak ada upaya yang sistemik untuk mencegahnya, kira-kira mampukah negara kita dapat bertahan lebih dari dua abad? ***
priatna
Ternyata Hitler Dikubur di Surabaya
Selama ini informasi yang didapat bahwa Hitler meninggal di sebuah bunker di Berlin Jerman pada saat perang dunia ke II dengan cara bunuh diri. Ada yang menyatakan bunuh diri dengan menmbak kepalanya sendiri dan versi lain bunuh diri dengan cara meminim racun sianida. Namun dari hasil otopsi pihak Amerika dengan tes DNA bahwa tengkorak kepala yang di duga jasad Hitler ternyata tengkorak wanita.
Timbul pertanyaan asebenarnya kapan dan di manakah Hitler minggal? apakah benar Hitler tewas bunuh diri pada perang dunia ke II? Kejanggalan tersebut membuat sebagian orang menjadi penasaran dengan kisah legenda Jerman ini.Konon katanya Hitler itu tidak meninggal di bunker Berlin tapi kabur ke Indonesia dengan menyamar sebagai seorang dokter. Cerita ini di kisahkan oleh seorang dr Sosrohusodo, dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama ‘Hope’ di Sumbawa Besar.
Hitler bersembunyi di Indonesia sejak 1954 sampai 1970 dengan menggunakan nama samaran dr Poch. dr Poch tinggal di Dompu lalu pindah ke Bima, selanjutnya pindah ke Kabupaten Sumbawa Besar, kemudian bekerja menjadi dokter di Rumah Sakit Umum Kabupaten Sumbawa Besar. dokter tersebut tak bisa berjalan normal, dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.Seluruh penduduk pulau Sumbawa kenal dengan dokter ini, yang di panggil dengan julukan “dokter Jerman”. Dr Poch bertemu dengan gadis sunda bernama Sulaesih yang sedang mengembara dan menikahinya. Dr Poch meninggal di Surabaya danadi makamkan di Ngagel.
Ini hanyalah salah satu kisah seorang dr dari Jerman yang dikait-kaitkan dengan Sang Fuhrer Nazi yang terkenal itu. Benar tidaknya wallahu’alam. Kematian Hitler di bunker Berlin itu tetap masih misteri karena peristiwa pada saat itu tiak ada saksinya hanya cerita dari mulut ke mulut saja.
Wassalam
Hendi Nukasep