Selasa, 27 Desember 2011

Orang yang Menyumbang Emas Tugu Monas



Ternyata 38 kg emas yang dipajang di puncak tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, 28 kg di antaranya adalah sumbangan dari Teuku Markam, salah seorang saudagar Aceh yang pernah menjadi orang terkaya Indonesia.

Orang-Orang hanya tahu bahwa emas tersebut memang benar sumbangan saudagar Aceh. Namun tak banyak yang tahu, bahwa Teuku Markamlah saudagar yang dimaksud itu.
Itu baru segelintir karya Teuku Markam untuk kepentingan negeri ini. Karya lainnya, ia pun ikut membebaskan lahan Senayan untuk dijadikan pusat olah raga terbesar Indonesia. Tentu saja banyak bantuan-bantuan Teuku Markam lainnya yang pantas dicatat dalam memajukan perekonomian Indonesia di zaman Soekarno, hingga menempatkan Markam dalam sebuah legenda.

Di zaman Orba, karyanya yang terbilang monumental adalah pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Jalan Medan-Banda Aceh, Bireuen-Takengon, Meulaboh, Tapaktuan dan lain-lain adalah karya lain dari Teuku Markam yang didanai oleh Bank Dunia. Sampai sekarang pun, jalan-jalan itu tetap awet. Teuku Markam pernah memiliki sejumlah kapal, dok kapal di Jakarta, Makassar, Medan, Palembang. Ia pun tercatat sebagai eksportir pertama mobil Toyota Hardtop dari Jepang. Usaha lain adalah mengimpor plat baja, besi beton sampai senjata untuk militer.

Mengingat peran yang begitu besar dalam percaturan bisnis dan perekonomian Indonesia, Teuku Markam pernah disebut-sebut sebagai anggota kabinet bayangan pemerintahan Soekarno. Peran Markam menjadi runtuh seiring dengan berkuasanya pemerintahan Soeharto. Ia ditahan selama delapan tahun dengan tuduhan terlibat PKI. Harta kekayaannya diambil alih begitu saja oleh Rezim Orba. Pernah mencoba bangkit sekeluar dari penjara, tapi tidak sempat bertahan lama. Tahun 1985 ia meninggal dunia. Ahli warisnya hidup terlunta-lunta sampai ada yang menderita depresi mental. Hingga kekuasaan Orba berakhir, nama baik Teuku Markam tidak pernah direhabilitir. Anak-anaknya mencoba bertahan hidup dengan segala daya upaya dan memanfaatkan bekas koneksi-koneksi bisnis Teuku Markam. Dan kini, ahli waris Teuku Markam tengah berjuang mengembalikan hak-hak orang tuanya.

Siapakah Teuku Markam ?
Teuku Markam turunan uleebalang. Lahir tahun 1925. Ayahnya Teuku Marhaban. Kampungnya Seuneudon dan Alue Capli, Panton Labu Aceh Utara. Sejak kecil Teuku Markam sudah menjadi yatim piatu. Ketika usia 9 tahun, Teuku Marhaban meninggal dunia. Sedangkan ibunya telah lebih dulu meninggal. Teuku Markam kemudian diasuh kakaknya Cut Nyak Putroe. Sempat mengecap pendidikan sampai kelas 4 SR (Sekolah Rakyat).

Teuku Markam tumbuh lalu menjadi pemuda dan memasuki pendidikan wajib militer di Koeta Radja (Banda Aceh sekarang) dan tamat dengan pangkat letnan satu. Teuku Markam bergabung dengan Tentara Rakyat Indonesia (TRI) dan ikut pertempuran di Tembung, Sumatera Utara bersama-sama dengan Jendral Bejo, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin dan lain-lain. Selama bertugas di Sumatera Utara, Teuku Markam aktif di berbagai lapangan pertempuran. Bahkan ia ikut mendamaikan clash antara pasukan Simbolon dengan pasukan Manaf Lubis.
Sebagai prajurit penghubung, Teuku Markam lalu diutus oleh Panglima Jenderal Bejo ke Jakarta untuk bertemu pimpinan pemerintah. Oleh pimpinan, Teuku Markam diutus lagi ke Bandung untuk menjadi ajudan Jenderal Gatot Soebroto. Tugas itu diemban Markam sampai Gatot Soebroto meninggal dunia.


Adalah Gatot Soebroto pula yang mempercayakan Teuku Markam untuk bertemu dengan Presiden Soekarno. Waktu itu, Bung Karno memang menginginkan adanya pengusaha pribumi yang betul-betul mampu menghendel masalah perekonomian Indonesia. Tahun 1957, ketika Teuku Markam berpangkat kapten (NRP 12276), kembali ke Aceh dan mendirikan PT Karkam. Ia sempat bentrok dengan Teuku Hamzah (Panglima Kodam Iskandar Muda) karena “disiriki” oleh orang lain. Akibatnya Teuku Markam ditahan dan baru keluar tahun 1958. Pertentangan dengan Teuku Hamzah berhasil didamaikan oleh Sjamaun Gaharu.

Keluar dari tahanan, Teuku Markam kembali ke Jakarta dengan membawa PT Karkam. Perusahaan itu dipercaya oleh Pemerintah RI mengelola pampasan perang untuk dijadikan dana revolusi. Selanjutnya Teuku Markam benar-benar menggeluti dunia usaha dengan sejumlah aset berupa kapal dan beberapa dok kapal di Palembang, Medan, Jakarta, Makassar, Surabaya. Bisnis Teuku Markam semakin luas karena ia juga terjun dalam ekspor – impor dengan sejumlah negara. Antara lain mengimpor mobil Toyota Hardtop dari Jepang, besi beton, plat baja dan bahkan sempat mengimpor senjata atas persetujuan Departemen Pertahanan dan Keamanan (Dephankam) dan Presiden.

Komitmen Teuku Markam adalah mendukung perjuangan RI sepenuhnya termasuk pembebasan Irian Barat serta pemberantasan buta huruf yang waktu itu digenjot habis-habisan oleh Soekarno. Hasil bisnis Teuku Markam konon juga ikut menjadi sumber APBN serta mengumpulkan sejumlah 28 kg emas untuk ditempatkan di puncak Monumen Nasional (Monas). Sebagaimana kita tahu bahwa proyek Monas merupakan salah satu impian Soekarno dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa.
Peran Teuku Markam menyukseskan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Afrika tidak kecil berkat bantuan sejumlah dana untuk keperluan KTT itu.

Teuku Markam termasuk salah satu konglomerat Indonesia yang dikenal dekat dengan pemerintahan Soekarno dan sejumlah pejabat lain seperti Menteri PU Ir Sutami, politisi Adam Malik, Soepardjo Rustam, Kaharuddin Nasution, Bustanil Arifin, Suhardiman, pengusaha Probosutedjo dan lain-lain. Pada zaman Soekarno, nama Teuku Markam memang luar biasa populer. Sampai-sampai Teuku Markam pernah dikatakan sebagai kabinet bayangan Soekarno.

Sejarah kemudian berbalik. Peran dan sumbangan Teuku Markam dalam membangun perekonomian Indonesia seakan menjadi tiada artinya di mata pemerintahan Orba. Ia difitnah sebagai PKI dan dituding sebagai koruptor dan Soekarnoisme.
Tuduhan itulah yang kemudian mengantarkan Teuku Markam ke penjara pada tahun 1966. Ia dijebloskan ke dalam sel tanpa ada proses pengadilan. Pertama-tama ia dimasukkan tahanan Budi Utomo, lalu dipindahkan ke Guntur, selanjutnya berpindah ke penjara Salemba Jln Percetakan Negara. Lalu dipindah lagi ke tahanan Cipinang, dan terakhir dipindahkan ke tahanan Nirbaya, tahanan untuk politisi di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur. Tahun 1972 ia jatuh sakit dan terpaksa dirawat di RSPAD Gatot Subroto selama kurang lebih dua tahun.

Peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto membuat hidup Teuku Markam menjadi sulit dan prihatin. Ia baru bebas tahun 1974. Ini pun, kabarnya, berkat jasa- jasa baik dari sejumlah teman setianya. Teuku Markam dilepaskan begitu saja tanpa ada konpensasi apapun dari pemerintahan Orba. “Memang betul, saat itu Teuku Markam tidak akan menuntut hak- haknya. Tapi waktu itu ia kan tertindas dan teraniaya,” kata Teuku Syauki Markam, salah seorang putra Teuku Markam.

Soeharto selaku Ketua Presidium Kabinet Ampera, pada 14 Agustus 1966 mengambil alih aset Teuku Markam berupa perkantoran, tanah dan lain-lain yang kemudian dikelola PT PP Berdikari yang didirikan Suhardiman untuk dan atas nama pemerintahan RI. Suhardiman, Bustanil Arifin, Amran Zamzami (dua orang terakhir ini adalah tokoh Aceh di Jakarta) termasuk teman-teman Markam. Namun tidak banyak menolong mengembalikan asset PT Karkam. Justru mereka ikut mengelola aset-aset tersebut di bawah bendera PT PP Berdikari. Suhardiman adalah orang pertama yang memimpin perusahaan tersebut. Di jajaran direktur tertera Sukotriwarno, Edhy Tjahaja, dan Amran Zamzami. Selanjutnya PP Berdikari dipimpin Letjen Achmad Tirtosudiro, Drs Ahman Nurhani, dan Bustanil Arifin SH.


Pada tahun 1974, Soeharto mengeluarkan Keppres N0 31 Tahun 1974 yang isinya antara lain penegasan status harta kekayaan eks PT Karkam/PT Aslam/PT Sinar Pagi yang diambil alih pemerintahan RI tahun 1966 berstatus “pinjaman” yang nilainya Rp 411.314.924,29 sebagai penyertaan modal negara di PT PP Berdikari.
Kepres itu terbit persis pada tahun dibebaskannya Teuku Markam dari tahanan.

Proyek Bank Dunia
Sekeluar dari penjara, tahun 1974, Teuku Markam mendirikan PT Marjaya dan menggarap proyek-prorek Bank Dunia untuk pembangunan infrastruktur di Aceh dan Jawa Barat. Tapi tidak satupun dari proyek-proyek raksasa yang dikerjakan PT Marjaya baik di Aceh maupun di Jawa Barat, mau diresmikan oleh pemerintahan Soeharto. Proyek PT Marjaya di Aceh antara lain pembangunan Jalan Bireuen – Takengon, Aceh Barat, Aceh Selatan, Medan-Banda Aceh, PT PIM dan lain-lain.
Teuku Syauki menduga, Rezim Orba sangat takut apabila Teuku Markam kembali bangkit. Untuk itulah, kata Teuku Syauki, proyek-proyek Markam “dianggap” angin lalu.

Teuku Markam meninggal tahun 1985 akibat komplikasi berbagai penyakit di Jakarta. Sampai akhir hayatnya, pemerintah tidak pernah merehabilitasi namanya. Bahkan sampai sekarang.

Masjid Pejlagrahan, Cirebon

Masjid pejglagrahan pada awalnya adalah sebuah tajug yang digunakan untuk leren (istirahat) maupun salat para nelayan yang ada di Cirebon pada abad ke-XV Masehi. Awalnya masjid ini persis berada di pinggir pantai dan pelabuhan muara jati. Seiring berjalannya waktu, pantai mulai menjauh dan sekarang masjid ini berada di tengah pemukiman penduduk. Konon, masjid ini juga merupakan cikal bakal Kraton Cirebon dan Masjid Kasepuhan. Kini, masjid ini berada di luar tembok Kraton.


Pada bagian luar manuju masjid terdapat papan info bahwa masjid ini berupakan benda cagar budaya, tetapi tidak dijelaskan BCB golongan berapa.


Tata ruangnya, selain ruang utama terdapat ruang pewastren pada bagian kanan masjid. Kedua ruangan tersebut di hubungkan dengan sebuah pintu pendek yang sekarang sudah jarang dibuka.


Ruang utama dengan mimbar dan mihrabnya hanya selebar 3 meter. Sebuah pintu regol menghubungkan antara ruang tengan dan ruang utama. Untuk salat rawatib hanya digunakan ruang tengah.


Pada dinding-dinding ruang tengah terdapat beberapa keramik dengan sedikit inskripsi. Keduanya diduga baru alias bukan unsure awal sejak pendirian masjid tersebut.


Masjid ini terletak di jl. Kesunenan tepatnya disebelah utara tembok kraton Kasepuhan.

(Hakim Syukrie)

Masjid Pangeran Kejaksan, Cirebon.

MASJID PANGERAN KEJAKSAN, CIREBON.

Masjid ini merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di Cirebon. Terletak di Jalan Karanggetas, Cirebon. Hanya beberapa meter dari PGC (Pusat Grosir Cirebon) Pasar Baru Cirebon. Menuju masjid ini ada sebuah papan yang menunjukkan bahwa masjid ini merupakan cagar budaya Cirebon.

Masjid Pangeran Kejaksan didirikan oleh Pangeran Kejaksan. Beliau adalah salah satu dari 4 anak Sultan Baghdad yang diperintahkan oleh ayahnya untuk belajar Islam di Tanah Jawa. Mereka adalah Syarif Abdurahman, Syarif Abdurahim, Syarif Kafi an Syarifah Baghdad. Mereka berguru kepada Syeikh Dahtul Kahfi atau syeikh Nurjati.

Berdasarkan Badad Cirebon, Mereka memenita 4 kapal untuk masing-masing. Tiap kapal memuat 300 orang. Setelah sampai di Cirebon, mereka naik ke Darat bersama 1.200 orang tersebut. Mereka langsung mejunu Gunung Jati, mereka member hormat kepada Syeikh Nur Jati. Setelah berguru, mereka oleh Ki Kuwu Cirebon diberi tempat pemukiman di sebelah utara. Syarifah Baghdad dan Syarif Kafi mengajarkan al-Qur’an di Masyarakat, Syekh Abdurrahman Menekuni bidang seni dan Syeikh Abdurahim menemuki agama dan berkarier sebagai jaksa. Beliau mengurus agama dan drigama (urusan duniawi) karenanya kemudian disebut sebagai pangeran Kejaksan. Adapaun masjid yang beliau dirikan dinamakan sebagai Masjid Kejaksan.

Masjid ini merupakan salah satu masjid yang dibangun pada masa awal penyebaran Islam di Cirbon abad ke-XV Masehi. Pada beberapa bagian sudah mengalami pemugaran, terutama pada bahan bangunan bagian luar (teras). Pada bagian dalam masih dipertahankan struktur aslinya. (Hakiem Syukrie)

Masjid Kramat Depok, Cirebon. Abad ke-XV M

13249498671884431658

dari tengah sawah


Aslinya, nama masjid ini adalah masjid al-Karomah. Karena factor pengucapan, berubah menjadi masjid Kramat. Ada juga sebagian masyarakat yang masjid ini memiliki karomah. Konon, masjid yang dibagian mihrabnya terdapat sungai ini, tidak roboh bagian depannya meskipun terkena banjir. Aliran sungai yang deras seakan menghindari mihrab masjid sehingga tidak roboh. Letaknya dipinggir sungai.

Terletak di Desa Depok Kecamatan Depok yang dulu termasuk wilayah Kecamatan Plumbon. Menurut penuturan penjaganya, masjid ini lebih dulu dibangun dibandingkan bangunan masjid Kasepuhan yang ada di Cirebon. Dibangun oleh penyebar Islam sebelum Sunan Gunungjati (awal Abad ke-XV Masehi). Hal ini diperkuat penuturan penjaga masjid tua lainnya yaitu Masjid Pesalakan. Bahwa menurut tulisan dari sultan Sepuh kepada rombongan dari Cikarang yang ingin melihat masjid tertua di Cirebon, ditunjukkan tiga masjid pertama Masjid Pesalakan, Masjid Megugede Plered dan Masjid al-KAromah Depok.



Masjid ini memiliki kesamaan arsitektur dengan beberapa bangunan masjid tua lainnya di Cirebon. Pada bagian luar dilingkari tembok dari bata mereh dengan satu pintu utama dan dua pintu samping. Semua pintu masuk tersebut tidak terlalu tinggi untuk dilewati orang dewasa. Pada bagian dalam terdapat ruang utama dan ruang pawestren. Ruang utama juga memiliki ketinggian yang rendah antara atap dengan latai. Mihrabnya berupa bagian dinding yang menjorok ke depan persegi empat. Dengan mimbar dari kayu jati yang masih asli beserta sebuah cis (tongkat besi).

13249501722012745136

Ruang dalam Masjid tua Depok Cirebon



Ruang utama masjid ini dibatasi dengan tembok yang tidak menyangga atap. Salah satu cirri masjid tua yang ada di Cirebon. Dengan ruang untuk wanita pada bagian kiri masjid.

Untuk menuju masjid ini, dari arah Cirebon bisa turun di pasar Jamblang kemudian menggunakan angkot ke Depok atau menggunakan Ojek kea rah selatan sekitar 8 Kilometer. Masjid ini terletak dipinggir sungai dan di tengah sawah. Relative jauh dari permukiman penduduk.
(Hakim Syukrie)

Lingkungan dan Kelanggengan Sebuah Negara

Lingkungan dan Kelanggengan Sebuah Negara

KERAJAAN Majapahit, 1293-1500 (2,07 abad); Kerajaan Kediri, 1042-1222 (1,8 abad); Kerajaan Singosari, 1222-1292 (70 tahun); Kerajaan Sunda, 669-1579 (9,1 abad). Dari fakta sejarah ini pertanyaan yang muncul adalah kenapa Kerajaan Sunda dapat bertahan 9 abad lebih sedangkan kerajaan lainnya di Pulo Jawa, termasuk Kerajaan Majapahit yang termashur, tidak lebih dari 2,5 abad?

Hingga saat ini parasejarawan di Jawa Barat belum ada yang bisa memberi penjelasan atau argumen mengenai kejayaan Kerajaan Sunda. Kalaupun ada yang mencoba membahasnya pada umumnya hanya bertumpu pada ilustrasi sipat orang Sunda yang tidak rakus kekuasaan, sehingga di Kerajaan Sunda tidak pernah terjadi perang memperebutkan kerajaan.

Sudah barang tentu argumen tersebut tidak cukup untuk menjelaskan mengenai apa yang menyebakan Kerajaan Sunda yang dapat bertahan selama 9 abad lebih itu. Bahkan memunculkan pertanyaan baru: Kenapa orang Sunda tidak tergiur oleh kekuasaan? Kenapa orang Sunda tidak memperdulikan tahta atau kedudukan, setidaknya sampai jatuhnya Kerajaan Sunda?

Untuk menjawab pertanyaan kenapa Kerajaan Sunda dapat bertahan selama 9,1 abad, dugaan (hipotesa) lain yang patut dikedepankan adalah: karena paktor alam. Di wilayah Kerajaan Sunda yang meliputi Jakarta, Banyumas, dan sebagian daerah Brebes, terdapat banyak gunung berapi sehingga tanahnya subur, daerahnya berbukit-bukit yang memberikan air berlimpah ruah pada penduduk.

Dengan kata lain, alam di wilayah Kerajaan Sunda memudahkan orang Sunda untuk menjalani kehidupan dengan baik dan teratur, termasuk dalam hal mementukan tara ruang. Alam telah memberikan segala-galanya pada orang Sunda termasuk keindahan pemandangannya. Ada pernyataan yang termashur: Tuhan menciptakan Priangan sambil tersenyum.

Jaman Kerajaan Sunda, raja-raja Sunda sangat memperhatikan sekali lingkungan, demikian juga kerajaan-kerajan bagian (Kerajaan Sunda menganut sistem seperti negera federal sekarang, tidak memusatkan kekuasaan pada satu tempat atau satu tangan, tidak seperti di kerajaan di Jawa). Bahkan di salahsatu kerajaan bagian, rajanya memberlukan hukuman mati bagi yang merusak alam.

Naskah kuna Carita Parahyangan (CP) tatkala menggambarkan keberhasilan Prabu Wastukancana dalam memimpin Kerajaan Sunda menulis begini (terjemahaan): Air, cahaya, angin, langit, dan bumi pun merasa senang berada dalam genggaman pelindung dunia. Ini mengandung arti para panguasa Sunda memperlakukan alam dengan baik. Mereka sangat mengerti pada keadaan alam di wilayahnya.

Karena itu, jaman Kerajaan Sunda, di Tatar Sunda menurut beberapa peminat sejarah, tidak pernah terjadi bencana alam, banjir, longsor dan sebagainya. Perobahan iklim dunia tidak terasa di Tatar Sunda, karena Tatar Sunda mempunyai iklim mikro yang mampu membendung pengaruh iklim global. Meskipun dalam hal gunung meletus, data geologi menunjukkan di wilayah Tatar Sunda pernah terjadi.

Keadaan alam Tatar Sunda berbeda dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Naskah kuna Pararaton, sumber sejarah penting di Jawa Timur, beberapa kali menyebutkan terjadinya gunung meletus saat di Majapahit berkecamuk perang Paregreg sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan menurut Pararaton, Majapahit pernah dilanda krisis pangan yang sangat parah.

Parageolog menduga di wilayah Majapahit pernah terjadi musibat seperti lumpur Lapindo sekarang. Konon Sungai Berantas juga alirannya berpindah, padahal sungai tersebut urat nadi perekonomian jaman itu. Karena itu bisa disebutkan kejatuhan Majapahit bukan hanya semata-semata terjadi perang saudara memperebutkan tahta dan kekuasaan, tetapi juga karena paktor, termasuk bencana alam.

Akan tetapi, karena manusia sekarang ini tidak mampu membaca dan memaknai sejarah, di Tatar Sunda alam dan lingkungan tidak dijaga dengan baik, malah sebaliknya dirusak habis-habisan. Jawa Barat pun menjadi daerah yang paling rawan bencana: longsor, musim kemarau terjadi kekeringan sehingga lahan pertanian kekurangan air, dan pada musim hujan banjir selalu menjadi persoalan.

Sisa-sisa kearifan parapendahulu Sunda tentang alam dan lingkungan, masih dapat dijumpai di masyarakat adat: di Kanekes (Baduy), Kampung Naga, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Ciptagelar, dan Kampung Cikondang. Mereka menjalankannya dengan konsisten sehingga hutan lindung (leuweung tutupan) yang mereka miliki terjaga kelestariannya.

Berkaitan dengan keadaan alam dan lingkungan secara nasional, kita dapat menaruh tanda tanya besar di belakang kata Indonesia. Negara kita sudah berumur 65 tahun (1945-2010). Jika kerusakan alam dan lingkungan semakin menjadi-jadi dan tidak ada upaya yang sistemik untuk mencegahnya, kira-kira mampukah negara kita dapat bertahan lebih dari dua abad? ***

priatna

Ternyata Hitler Dikubur di Surabaya

1324977003674851082

Kontroversi tentang kematian Sang Fuhrer Jerman sampai saat ini masih diliputi dengan misteri, sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung secara konkrit akan kisah sang pemimpin nazi ini bagaimana akhir hayat dan di manakah dikuburkannya.

Selama ini informasi yang didapat bahwa Hitler meninggal di sebuah bunker di Berlin Jerman pada saat perang dunia ke II dengan cara bunuh diri. Ada yang menyatakan bunuh diri dengan menmbak kepalanya sendiri dan versi lain bunuh diri dengan cara meminim racun sianida. Namun dari hasil otopsi pihak Amerika dengan tes DNA bahwa tengkorak kepala yang di duga jasad Hitler ternyata tengkorak wanita.

Timbul pertanyaan asebenarnya kapan dan di manakah Hitler minggal? apakah benar Hitler tewas bunuh diri pada perang dunia ke II? Kejanggalan tersebut membuat sebagian orang menjadi penasaran dengan kisah legenda Jerman ini.

Konon katanya Hitler itu tidak meninggal di bunker Berlin tapi kabur ke Indonesia dengan menyamar sebagai seorang dokter. Cerita ini di kisahkan oleh seorang dr Sosrohusodo, dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama ‘Hope’ di Sumbawa Besar.

Hitler bersembunyi di Indonesia sejak 1954 sampai 1970 dengan menggunakan nama samaran dr Poch. dr Poch tinggal di Dompu lalu pindah ke Bima, selanjutnya pindah ke Kabupaten Sumbawa Besar, kemudian bekerja menjadi dokter di Rumah Sakit Umum Kabupaten Sumbawa Besar. dokter tersebut tak bisa berjalan normal, dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.

Seluruh penduduk pulau Sumbawa kenal dengan dokter ini, yang di panggil dengan julukan “dokter Jerman”. Dr Poch bertemu dengan gadis sunda bernama Sulaesih yang sedang mengembara dan menikahinya. Dr Poch meninggal di Surabaya danadi makamkan di Ngagel.


Ini hanyalah salah satu kisah seorang dr dari Jerman yang dikait-kaitkan dengan Sang Fuhrer Nazi yang terkenal itu. Benar tidaknya wallahu’alam. Kematian Hitler di bunker Berlin itu tetap masih misteri karena peristiwa pada saat itu tiak ada saksinya hanya cerita dari mulut ke mulut saja.

Jadi, tidak menutup kemungkinan Hitler meninggal di Indonesia. Bisa iya dan bisa tidak…Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983 terdapat sebuah artikel tentang Hitler
Wassalam
Hendi Nukasep

Dilpomat Iran Selamatkan Ribuan Warga Yahudi !

Meskipun sekarang hubungan antara Iran dan Israel sangat tegang,dan senantiasa saling mengancam satu dengan lainnya.Bahkan nyaris terjadi peperangan secara terbuka antara kedua bangsa tersebut,disebabkan ulah pemerintahan mereka masing-masing.Akan tetapi antara kedua bangsa itu pernah juga sebelumnya terjalin hubungan yang sangat baik,sehingga rela berkorban untuk menyelamatkan sahabatnya tersebut.

Hal inilah yang sangat menarik ketika membaca sebuah buku yang berjudul”The Leon’s Shadow” yang ditulis oleh Fariborz Mukhtary .Dalam buku itu di ceriterakan bagaimana heroiknya salah seorang diplomat Iran yang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan komunitas Yahudi,ketika orang-orang Yahudi terancam jiwanya oleh pasukan Gestapo Nazi itu.,sebagaimana diceriterakan oleh warga Yahudi , sebagai saksi hidup yang mengalaminya sendiri kisah tersebut.

Diplomat Iran itu adalah Abdul Husein Sardari,seorang di plomat Iran yang berkedudukan di posnya Paris,Perancis.Sebagai seorang diplomat Iran untuk Perancis banyak menyelamatkan warga Yahudi Iran di Perancis dari kekejaman pasukan Nazi ketika seluruh Perancis berhasil dikuasai oleh Jerman. Elain Senahi Cohanim yang sudah berusia 70 tahun ketika berupaya meloloskan diri dari Perancis , karena pasukan Nazi Jerman sudah sepenuhnya menguasai seantero negeri Perancis,meskipun perlawanan yang dilakukan oleh gerakan Perancis merdeka dibawah pimpinan Charles De Guille masih terus berlangsung secara gerilya itu.

Dalam proses meloloskan diri dari Perancis itu,nyonya Cobahanim bersama suaminya Nasser Cohanim tinggal di Paris,dan ayahnya George Senahie sebagai pedagang tektile mendiami sebuah rumah besar di bilangan komplek Manmorenty ,sekitar 25 kilomter diutara Paris.Dalam The Leon’s Shadow juga disebutkan bagaimana Abdul Hussein Sardary membuat ribuan pasport Iran bagi komunitas Yahudi di Paris,untuk menyelamatkan mereka dari kebiadaban Nazis Adolf Hitler tersebut.

Dalam perang dunia tersebut,Iran memang bersikap neutral sehingga Teheran tetap di hormati kedaulatannya oleh negara-negara yang terlibat dalam perang yang menelan korban puluhan juta itu.Dalam kmonteks inilah Abdul Husein Sardary banyak menyelamatkan warga Yahudi dari rumah-rumah tahanan Nazi di Perancis,dengan memberikan passport kepada mereka sehingga dianggap sebagai warga Iran yang segera pula di kirim ke Iran .Karenanya tidak mengherankan sekiranya di Iran sekarang terdapat banyak komunitas Yahudi dengan kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing.

Dalam sejarah juga tercatat,bahwa memang bangsa Parsia yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Iran pernah juga melakukan hal serupa terhadap bangsa Yahudi.Pada tahun 586 Seb.M ,Raja Nebukadnezar dari Babylonia menguasai Yudea ,dan masyarakat Yahudi ditawan lalu di buang ke Babylonia sampai tahun 539 Seb.M sehingga dalam sejarah disebut dengan “Pembuangan Babylonia”.Selanjutnya Babylonia dikuasai oleh Kerajaan Parsia,maka raja Parsia Cyrus tahun 539 Seb.M membebaskan masyarakat Yahudi lalu kemudian mengembalikannya ke Palestina.

Oleh sebab itu kiranya antara bangsa Parsia(Iran)dan Yahudi(Israel)sesungguhnya pernah saling membantu satu dengan lainnya,sebagaimana juga pendeta Yahudi membantu Salman Al Parsia dalam mencari kebenaran hidupnya sehingga bertemnu dengan nabi Muhammad SAW di Medinah.Salman ini kemudian menjadi salah seorang sahabat Rasulullah SAW,serta menjadi arsitek strategi “Khandaq”(Parit) pasukan mmuslim saat terkepung oleh pasukan koalisi musyrikin Arab Quraisy,bani Nadir,dan kabilah Arab dan Yahudi lainnya.Dalam Al Qur’an peperangan tersebut dikenal dengan perang al Ahzab.

Nah kalau dahulu antara Iran dan Israel bisa berhubungan baik dan harmonis,saling hormat-menghormati satu sama lainnya,sekarangpun hal itu tidak mustahil terjadi jika kedua pemerintahannya di Tel Aviv dan Teheran menghendakinya.Semoga kedua bangsa ini bisa rukun harmonis kembali sebagaimana telah mereka praktikkan dalam sejarah peradaban dunia .

Muhammad Nurdin