Selasa, 27 Desember 2011

Masjid Pangeran Kejaksan, Cirebon.

MASJID PANGERAN KEJAKSAN, CIREBON.

Masjid ini merupakan salah satu masjid tua dan bersejarah di Cirebon. Terletak di Jalan Karanggetas, Cirebon. Hanya beberapa meter dari PGC (Pusat Grosir Cirebon) Pasar Baru Cirebon. Menuju masjid ini ada sebuah papan yang menunjukkan bahwa masjid ini merupakan cagar budaya Cirebon.

Masjid Pangeran Kejaksan didirikan oleh Pangeran Kejaksan. Beliau adalah salah satu dari 4 anak Sultan Baghdad yang diperintahkan oleh ayahnya untuk belajar Islam di Tanah Jawa. Mereka adalah Syarif Abdurahman, Syarif Abdurahim, Syarif Kafi an Syarifah Baghdad. Mereka berguru kepada Syeikh Dahtul Kahfi atau syeikh Nurjati.

Berdasarkan Badad Cirebon, Mereka memenita 4 kapal untuk masing-masing. Tiap kapal memuat 300 orang. Setelah sampai di Cirebon, mereka naik ke Darat bersama 1.200 orang tersebut. Mereka langsung mejunu Gunung Jati, mereka member hormat kepada Syeikh Nur Jati. Setelah berguru, mereka oleh Ki Kuwu Cirebon diberi tempat pemukiman di sebelah utara. Syarifah Baghdad dan Syarif Kafi mengajarkan al-Qur’an di Masyarakat, Syekh Abdurrahman Menekuni bidang seni dan Syeikh Abdurahim menemuki agama dan berkarier sebagai jaksa. Beliau mengurus agama dan drigama (urusan duniawi) karenanya kemudian disebut sebagai pangeran Kejaksan. Adapaun masjid yang beliau dirikan dinamakan sebagai Masjid Kejaksan.

Masjid ini merupakan salah satu masjid yang dibangun pada masa awal penyebaran Islam di Cirbon abad ke-XV Masehi. Pada beberapa bagian sudah mengalami pemugaran, terutama pada bahan bangunan bagian luar (teras). Pada bagian dalam masih dipertahankan struktur aslinya. (Hakiem Syukrie)

Masjid Kramat Depok, Cirebon. Abad ke-XV M

13249498671884431658

dari tengah sawah


Aslinya, nama masjid ini adalah masjid al-Karomah. Karena factor pengucapan, berubah menjadi masjid Kramat. Ada juga sebagian masyarakat yang masjid ini memiliki karomah. Konon, masjid yang dibagian mihrabnya terdapat sungai ini, tidak roboh bagian depannya meskipun terkena banjir. Aliran sungai yang deras seakan menghindari mihrab masjid sehingga tidak roboh. Letaknya dipinggir sungai.

Terletak di Desa Depok Kecamatan Depok yang dulu termasuk wilayah Kecamatan Plumbon. Menurut penuturan penjaganya, masjid ini lebih dulu dibangun dibandingkan bangunan masjid Kasepuhan yang ada di Cirebon. Dibangun oleh penyebar Islam sebelum Sunan Gunungjati (awal Abad ke-XV Masehi). Hal ini diperkuat penuturan penjaga masjid tua lainnya yaitu Masjid Pesalakan. Bahwa menurut tulisan dari sultan Sepuh kepada rombongan dari Cikarang yang ingin melihat masjid tertua di Cirebon, ditunjukkan tiga masjid pertama Masjid Pesalakan, Masjid Megugede Plered dan Masjid al-KAromah Depok.



Masjid ini memiliki kesamaan arsitektur dengan beberapa bangunan masjid tua lainnya di Cirebon. Pada bagian luar dilingkari tembok dari bata mereh dengan satu pintu utama dan dua pintu samping. Semua pintu masuk tersebut tidak terlalu tinggi untuk dilewati orang dewasa. Pada bagian dalam terdapat ruang utama dan ruang pawestren. Ruang utama juga memiliki ketinggian yang rendah antara atap dengan latai. Mihrabnya berupa bagian dinding yang menjorok ke depan persegi empat. Dengan mimbar dari kayu jati yang masih asli beserta sebuah cis (tongkat besi).

13249501722012745136

Ruang dalam Masjid tua Depok Cirebon



Ruang utama masjid ini dibatasi dengan tembok yang tidak menyangga atap. Salah satu cirri masjid tua yang ada di Cirebon. Dengan ruang untuk wanita pada bagian kiri masjid.

Untuk menuju masjid ini, dari arah Cirebon bisa turun di pasar Jamblang kemudian menggunakan angkot ke Depok atau menggunakan Ojek kea rah selatan sekitar 8 Kilometer. Masjid ini terletak dipinggir sungai dan di tengah sawah. Relative jauh dari permukiman penduduk.
(Hakim Syukrie)

Lingkungan dan Kelanggengan Sebuah Negara

Lingkungan dan Kelanggengan Sebuah Negara

KERAJAAN Majapahit, 1293-1500 (2,07 abad); Kerajaan Kediri, 1042-1222 (1,8 abad); Kerajaan Singosari, 1222-1292 (70 tahun); Kerajaan Sunda, 669-1579 (9,1 abad). Dari fakta sejarah ini pertanyaan yang muncul adalah kenapa Kerajaan Sunda dapat bertahan 9 abad lebih sedangkan kerajaan lainnya di Pulo Jawa, termasuk Kerajaan Majapahit yang termashur, tidak lebih dari 2,5 abad?

Hingga saat ini parasejarawan di Jawa Barat belum ada yang bisa memberi penjelasan atau argumen mengenai kejayaan Kerajaan Sunda. Kalaupun ada yang mencoba membahasnya pada umumnya hanya bertumpu pada ilustrasi sipat orang Sunda yang tidak rakus kekuasaan, sehingga di Kerajaan Sunda tidak pernah terjadi perang memperebutkan kerajaan.

Sudah barang tentu argumen tersebut tidak cukup untuk menjelaskan mengenai apa yang menyebakan Kerajaan Sunda yang dapat bertahan selama 9 abad lebih itu. Bahkan memunculkan pertanyaan baru: Kenapa orang Sunda tidak tergiur oleh kekuasaan? Kenapa orang Sunda tidak memperdulikan tahta atau kedudukan, setidaknya sampai jatuhnya Kerajaan Sunda?

Untuk menjawab pertanyaan kenapa Kerajaan Sunda dapat bertahan selama 9,1 abad, dugaan (hipotesa) lain yang patut dikedepankan adalah: karena paktor alam. Di wilayah Kerajaan Sunda yang meliputi Jakarta, Banyumas, dan sebagian daerah Brebes, terdapat banyak gunung berapi sehingga tanahnya subur, daerahnya berbukit-bukit yang memberikan air berlimpah ruah pada penduduk.

Dengan kata lain, alam di wilayah Kerajaan Sunda memudahkan orang Sunda untuk menjalani kehidupan dengan baik dan teratur, termasuk dalam hal mementukan tara ruang. Alam telah memberikan segala-galanya pada orang Sunda termasuk keindahan pemandangannya. Ada pernyataan yang termashur: Tuhan menciptakan Priangan sambil tersenyum.

Jaman Kerajaan Sunda, raja-raja Sunda sangat memperhatikan sekali lingkungan, demikian juga kerajaan-kerajan bagian (Kerajaan Sunda menganut sistem seperti negera federal sekarang, tidak memusatkan kekuasaan pada satu tempat atau satu tangan, tidak seperti di kerajaan di Jawa). Bahkan di salahsatu kerajaan bagian, rajanya memberlukan hukuman mati bagi yang merusak alam.

Naskah kuna Carita Parahyangan (CP) tatkala menggambarkan keberhasilan Prabu Wastukancana dalam memimpin Kerajaan Sunda menulis begini (terjemahaan): Air, cahaya, angin, langit, dan bumi pun merasa senang berada dalam genggaman pelindung dunia. Ini mengandung arti para panguasa Sunda memperlakukan alam dengan baik. Mereka sangat mengerti pada keadaan alam di wilayahnya.

Karena itu, jaman Kerajaan Sunda, di Tatar Sunda menurut beberapa peminat sejarah, tidak pernah terjadi bencana alam, banjir, longsor dan sebagainya. Perobahan iklim dunia tidak terasa di Tatar Sunda, karena Tatar Sunda mempunyai iklim mikro yang mampu membendung pengaruh iklim global. Meskipun dalam hal gunung meletus, data geologi menunjukkan di wilayah Tatar Sunda pernah terjadi.

Keadaan alam Tatar Sunda berbeda dengan di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Naskah kuna Pararaton, sumber sejarah penting di Jawa Timur, beberapa kali menyebutkan terjadinya gunung meletus saat di Majapahit berkecamuk perang Paregreg sepeninggal Hayam Wuruk. Bahkan menurut Pararaton, Majapahit pernah dilanda krisis pangan yang sangat parah.

Parageolog menduga di wilayah Majapahit pernah terjadi musibat seperti lumpur Lapindo sekarang. Konon Sungai Berantas juga alirannya berpindah, padahal sungai tersebut urat nadi perekonomian jaman itu. Karena itu bisa disebutkan kejatuhan Majapahit bukan hanya semata-semata terjadi perang saudara memperebutkan tahta dan kekuasaan, tetapi juga karena paktor, termasuk bencana alam.

Akan tetapi, karena manusia sekarang ini tidak mampu membaca dan memaknai sejarah, di Tatar Sunda alam dan lingkungan tidak dijaga dengan baik, malah sebaliknya dirusak habis-habisan. Jawa Barat pun menjadi daerah yang paling rawan bencana: longsor, musim kemarau terjadi kekeringan sehingga lahan pertanian kekurangan air, dan pada musim hujan banjir selalu menjadi persoalan.

Sisa-sisa kearifan parapendahulu Sunda tentang alam dan lingkungan, masih dapat dijumpai di masyarakat adat: di Kanekes (Baduy), Kampung Naga, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Ciptagelar, dan Kampung Cikondang. Mereka menjalankannya dengan konsisten sehingga hutan lindung (leuweung tutupan) yang mereka miliki terjaga kelestariannya.

Berkaitan dengan keadaan alam dan lingkungan secara nasional, kita dapat menaruh tanda tanya besar di belakang kata Indonesia. Negara kita sudah berumur 65 tahun (1945-2010). Jika kerusakan alam dan lingkungan semakin menjadi-jadi dan tidak ada upaya yang sistemik untuk mencegahnya, kira-kira mampukah negara kita dapat bertahan lebih dari dua abad? ***

priatna

Ternyata Hitler Dikubur di Surabaya

1324977003674851082

Kontroversi tentang kematian Sang Fuhrer Jerman sampai saat ini masih diliputi dengan misteri, sampai saat ini belum ada bukti yang mendukung secara konkrit akan kisah sang pemimpin nazi ini bagaimana akhir hayat dan di manakah dikuburkannya.

Selama ini informasi yang didapat bahwa Hitler meninggal di sebuah bunker di Berlin Jerman pada saat perang dunia ke II dengan cara bunuh diri. Ada yang menyatakan bunuh diri dengan menmbak kepalanya sendiri dan versi lain bunuh diri dengan cara meminim racun sianida. Namun dari hasil otopsi pihak Amerika dengan tes DNA bahwa tengkorak kepala yang di duga jasad Hitler ternyata tengkorak wanita.

Timbul pertanyaan asebenarnya kapan dan di manakah Hitler minggal? apakah benar Hitler tewas bunuh diri pada perang dunia ke II? Kejanggalan tersebut membuat sebagian orang menjadi penasaran dengan kisah legenda Jerman ini.

Konon katanya Hitler itu tidak meninggal di bunker Berlin tapi kabur ke Indonesia dengan menyamar sebagai seorang dokter. Cerita ini di kisahkan oleh seorang dr Sosrohusodo, dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama ‘Hope’ di Sumbawa Besar.

Hitler bersembunyi di Indonesia sejak 1954 sampai 1970 dengan menggunakan nama samaran dr Poch. dr Poch tinggal di Dompu lalu pindah ke Bima, selanjutnya pindah ke Kabupaten Sumbawa Besar, kemudian bekerja menjadi dokter di Rumah Sakit Umum Kabupaten Sumbawa Besar. dokter tersebut tak bisa berjalan normal, dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.

Seluruh penduduk pulau Sumbawa kenal dengan dokter ini, yang di panggil dengan julukan “dokter Jerman”. Dr Poch bertemu dengan gadis sunda bernama Sulaesih yang sedang mengembara dan menikahinya. Dr Poch meninggal di Surabaya danadi makamkan di Ngagel.


Ini hanyalah salah satu kisah seorang dr dari Jerman yang dikait-kaitkan dengan Sang Fuhrer Nazi yang terkenal itu. Benar tidaknya wallahu’alam. Kematian Hitler di bunker Berlin itu tetap masih misteri karena peristiwa pada saat itu tiak ada saksinya hanya cerita dari mulut ke mulut saja.

Jadi, tidak menutup kemungkinan Hitler meninggal di Indonesia. Bisa iya dan bisa tidak…Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983 terdapat sebuah artikel tentang Hitler
Wassalam
Hendi Nukasep

Dilpomat Iran Selamatkan Ribuan Warga Yahudi !

Meskipun sekarang hubungan antara Iran dan Israel sangat tegang,dan senantiasa saling mengancam satu dengan lainnya.Bahkan nyaris terjadi peperangan secara terbuka antara kedua bangsa tersebut,disebabkan ulah pemerintahan mereka masing-masing.Akan tetapi antara kedua bangsa itu pernah juga sebelumnya terjalin hubungan yang sangat baik,sehingga rela berkorban untuk menyelamatkan sahabatnya tersebut.

Hal inilah yang sangat menarik ketika membaca sebuah buku yang berjudul”The Leon’s Shadow” yang ditulis oleh Fariborz Mukhtary .Dalam buku itu di ceriterakan bagaimana heroiknya salah seorang diplomat Iran yang mempertaruhkan nyawanya sendiri untuk menyelamatkan komunitas Yahudi,ketika orang-orang Yahudi terancam jiwanya oleh pasukan Gestapo Nazi itu.,sebagaimana diceriterakan oleh warga Yahudi , sebagai saksi hidup yang mengalaminya sendiri kisah tersebut.

Diplomat Iran itu adalah Abdul Husein Sardari,seorang di plomat Iran yang berkedudukan di posnya Paris,Perancis.Sebagai seorang diplomat Iran untuk Perancis banyak menyelamatkan warga Yahudi Iran di Perancis dari kekejaman pasukan Nazi ketika seluruh Perancis berhasil dikuasai oleh Jerman. Elain Senahi Cohanim yang sudah berusia 70 tahun ketika berupaya meloloskan diri dari Perancis , karena pasukan Nazi Jerman sudah sepenuhnya menguasai seantero negeri Perancis,meskipun perlawanan yang dilakukan oleh gerakan Perancis merdeka dibawah pimpinan Charles De Guille masih terus berlangsung secara gerilya itu.

Dalam proses meloloskan diri dari Perancis itu,nyonya Cobahanim bersama suaminya Nasser Cohanim tinggal di Paris,dan ayahnya George Senahie sebagai pedagang tektile mendiami sebuah rumah besar di bilangan komplek Manmorenty ,sekitar 25 kilomter diutara Paris.Dalam The Leon’s Shadow juga disebutkan bagaimana Abdul Hussein Sardary membuat ribuan pasport Iran bagi komunitas Yahudi di Paris,untuk menyelamatkan mereka dari kebiadaban Nazis Adolf Hitler tersebut.

Dalam perang dunia tersebut,Iran memang bersikap neutral sehingga Teheran tetap di hormati kedaulatannya oleh negara-negara yang terlibat dalam perang yang menelan korban puluhan juta itu.Dalam kmonteks inilah Abdul Husein Sardary banyak menyelamatkan warga Yahudi dari rumah-rumah tahanan Nazi di Perancis,dengan memberikan passport kepada mereka sehingga dianggap sebagai warga Iran yang segera pula di kirim ke Iran .Karenanya tidak mengherankan sekiranya di Iran sekarang terdapat banyak komunitas Yahudi dengan kebebasan menjalankan ajaran agamanya masing-masing.

Dalam sejarah juga tercatat,bahwa memang bangsa Parsia yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan Iran pernah juga melakukan hal serupa terhadap bangsa Yahudi.Pada tahun 586 Seb.M ,Raja Nebukadnezar dari Babylonia menguasai Yudea ,dan masyarakat Yahudi ditawan lalu di buang ke Babylonia sampai tahun 539 Seb.M sehingga dalam sejarah disebut dengan “Pembuangan Babylonia”.Selanjutnya Babylonia dikuasai oleh Kerajaan Parsia,maka raja Parsia Cyrus tahun 539 Seb.M membebaskan masyarakat Yahudi lalu kemudian mengembalikannya ke Palestina.

Oleh sebab itu kiranya antara bangsa Parsia(Iran)dan Yahudi(Israel)sesungguhnya pernah saling membantu satu dengan lainnya,sebagaimana juga pendeta Yahudi membantu Salman Al Parsia dalam mencari kebenaran hidupnya sehingga bertemnu dengan nabi Muhammad SAW di Medinah.Salman ini kemudian menjadi salah seorang sahabat Rasulullah SAW,serta menjadi arsitek strategi “Khandaq”(Parit) pasukan mmuslim saat terkepung oleh pasukan koalisi musyrikin Arab Quraisy,bani Nadir,dan kabilah Arab dan Yahudi lainnya.Dalam Al Qur’an peperangan tersebut dikenal dengan perang al Ahzab.

Nah kalau dahulu antara Iran dan Israel bisa berhubungan baik dan harmonis,saling hormat-menghormati satu sama lainnya,sekarangpun hal itu tidak mustahil terjadi jika kedua pemerintahannya di Tel Aviv dan Teheran menghendakinya.Semoga kedua bangsa ini bisa rukun harmonis kembali sebagaimana telah mereka praktikkan dalam sejarah peradaban dunia .

Muhammad Nurdin

Revolusi yang Memakan Anak Sendiri, Tan Malaka

Pria itu, yang tangis pertamanya bergaung di Pandan Gadang, pada 2 Juni 1897, kelak bertumbuh menjadi tokoh yang revolusioner. Dialah Ibrahim Datuk Tan Malaka, anak tertua dari keluarga Simabur. Sebagai datuk, gelar tertinggi, dia membawahi kelaurga Simabur, Piliang dan Chaniago.

Riwayat hidup pria ini, yang membujang sampai akhir hayatnya, memang sarat warna, getaran, dan ayunan. Cerita hidupnya menjurus ke mitos, terutama di tempat kelahirannya, ranah Minangkabau sana. Setiap orang tua dengan bangga akan menceritakan ke anak-anaknya tentang kehebatan pria ini, yang konon bisa menghilang di satu tempat dan tiba-tiba muncul di tempat lain yang terpaut ratusan kilometer dalam sekedipan mata.

Dia memang misterius. Ada 13 alamat rahasia dan paling tidak tujuh nama samaran. Dalam pelariannya, di Manila dia adalah Elias Fuentes atau Estahislau Rivera, di Pilippina Selatan dia adalah Hasan Gozali, di Burma dia menjadi Oong Soong Lee, di Singapura menjadi Tan Ho Seng, dan saat kembali ke Indonesia dia bersalin wujud menjadi Ilyas Husein. Dia juga berbicara dalam beragam bahasa, Melayu, Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Tagalog, Tionghoa. Dan di Minangkabau sana, dia dijuluki si badung dari Pandan Gadang.

Dan dia memang pria hebat, terutama bukan karena apa yang dilakukannya terhadap republik ini, tetapi karena konsistensinya dan komitmennya yang sekeras karang. Jalan perjuangan yang dipilihnya itu, jalan revolusi, meskipun dia tahu berujung di kesunyian dan kesendirian, tetapi itulah yang diyakini, dipilih, dan dijalani dengan hati yang keras. Seorang gadis yang mencintainya, Paramita Rahayu Abdurrachman mengatakan: “Tan kelewat besar buat saya, dia hidup tidak normal”. Maka berakhirlah romantisme itu.

Dia adalah manusia pertama yang mencetuskan ide keindonesiaan, pada tahun 1925, tiga tahun sebelum sumpah pemuda, dan dituangkannya dalam karyanya yang fenomenal, Naar de Republiek Indonesia. Di situ dia menekankan betapa pentingnya persatuan dan betapa berbahayanya perpecahan. Meski tidak dicatatkan dalam sejarah, tapi tak layak pula kita melupakannya. Lalu dia memilih jalan revolusioner untuk mewujudkan idenya, kemerdekaan harus 100 persen, tanpa kompromi dengan siapapun. Bagi Tan Malaka, merdeka membawa kita ke dalam dua arah. Pertama bebas dari ketakutan dan penjajahan, dan kedua tidak menebar terror terhadap siapapun. Pemikiran yang sangat elok.

Idenya ini, konsep keindonesiaan, adalah gila dan berbahaya. Maka Belanda mengejarnya, Jepang mengejarnya, ke mana saja dan di mana saja. Tan menghindar, berkelit, sambil terus berpropaganda tentang keindonesiaan.

Dari sejarah Yunan sampai penjajahan Jepang, bangsa Indonesia tidak mempunyai riwayat kesejarahan selain perbudakan, katanya. Dan di dalam perbudakan, mitoslah yang berkembang, ratu adil, satria piningit dan lain-lain. Solusinya dirangkum di dalam karyanya, menjadi warisannya yang paling otentik, MADILOG. Di situ, di Madilog itu, dia mencoba mengubah mental budaya pasif menjadi kelas sosial baru yang berlandaskan sains dan bebas dari alam pikiran mistis. Yang pertama harus diubah adalah pikiran, katanya di dalam Madilog. Jadi MADILOG itu adalah tentang cara berpikir, bukan tentang cara bertindak. Dan itu semua ditulisnya dalam suasana kemiskinan, penderitaan, dan kesepian yang sangat ekstrem. Bagai mana tidak?, saat itu dia tinggal di sepetak kandang ayam di Rawajati Timur, Kalibata. Tetapi dari sinilah muncul puncak kualitas orisinil pemikiran terbaik dari Tan Malaka, sang pria mitos itu.

Seperti apa Indonesia yang diimpikannya?, sejak awal dia sudah tegas bahwa eks Hindia Belanda harus menjadi Republik Indonesia. Gagasan yang kemudian digunakan Sukarno. Dalam gagasannya, republik tidak menganut trias politika, tetapi republik adalah sebuah negara efisien yang dikelola oleh sebuah organisasi. Dia tidak percaya Parlemen, itu tak lebih dari sekedar warung tempat orang-orang adu kuat suara, berisik, menipu, dan berbual, yang harus diongkosi negara dengan biaya tinggi. Wabah trias Politika sama sekali tidak menyentuh Tan Malaka. Kita, yang hidup di zaman ini, akan mengatakan bahwa itu adalah bangunan negara yang tidak demokratis. Tetapi dengarkanlah penjelasannya. Jika karena ketiadaan badan legislatip menyebabkan negara tidak demokratis, maka partai politik, organisasi kemasyarakatan, ASEAN, dan PBB adalah lembaga yang tidak demokratis, katanya.

Dan inilah titik persimpangan itu. Dari sinilah dia mulai menempuh jalan yang berbeda dengan para rekan sejawatnya, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Sudirman, dan lainnya. Tetapi dia memang pria yang teguh, dan konsisten. Dia percayai jalan yang ditempuhnya, lalu dijalaninya dengan segenap rasa dan raga. Dari kontribusinya terhadap perjuangan kemerdekaan sewajarnya dia memperoleh jabatan terhormat di republik yang digagasnya itu. Tetapi tidak, dia tidak seperti itu, kualitasnya jauh di atas itu. Meskipun jalan yang dipilihnya menjadi jalan kesunyian, ketersingkiran, dan pengorbanan, tetapi itulah pilihannya. Maka republik yang digagasnya itupun mencaci-maki, dan tragisnya membunuh dia.

Dari dalam kubur suaraku akan terdengar lebih keras dari pada di atas bumi, katanya. Dan diapun tewas, 16 April 1949, ada yang menyebut 21 Februari 1949, oleh peluru dari republik yang digagasnya itu. Bahkan tanggal kematiannya, dan juga makamnya, tetaplah misterius, semisterius orangnya.

Revolusi memakan anaknya sendiri.

Jonny Hutahaean

Ada Piramida di Kota Dodol???

Saya baru mendengar berita tentang berita piramida garut ini tadi sekitar pukul 19.00 WIB di on the spot. Takjub, pertama kali mendengar dan melihatnya, beberapa pertanyaan mulai berkecamuk dalam hati saya, Benarkah itu Piramida??? Apa itu piramida buatan manusia ataukah piramida yang tercipta karena adanya fenomena alam? Saya langsung saja search di google mengenai piramida garut ini.Dan setelah saya membaca informasi-informasinya, maka ini adalah tulisan yang saya tulis berdasarkan pemahaman sederhana dari apa yang saya baca.



Piramida merupakan sebuah bukti kejayaan masa lampau yang menunjukkan adanya peradaban dunia di sana. Piramida sendiri banyak terdapat di Mesir, seperti piramida yang terkenal di sana yaitu piramida giza. Lalu benarkah Indonesia juga memiliki piramida yang sama luar biasanya seperti piramida giza?


Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Tim Bencana Katastropik Purba, mereka meyakini bahwa di balik timbunan tanah di gunung Sadahurip, garut Jawa Barat, terdapat piramida buatan manusia, yang bahkan berusia lebih tua dari Piramida Giza di Mesir. Piramida garut ini juga masih controversial karena masih banyak ahli di Indonesia yang mengatakan bahwa tak ada sejarah adanya piramida di Indonesia. Namun, penelitian tetap dilakukan karena hal ini bisa saja terjadi, karena semuanya ini mungkin. Dan bila hal ini terbukti, Indonesia bisa mempunyai situs sejarah yang sama bahkan bisa lebih dari piramida Giza di Mesir.



Penemuan piramida garut ini hampir sama dengan ditemukannya piramida di Bosnia, yang sudah dikenal sebagai masyarakat goa yang primitive, pada april 2005 lalu. Namun, Anggota Tim Bencana Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Iwan Sumule, sendiri membantah bahwa penemuan ini terinspirasi dari piramida Bosnia, karena pada awalnya penelitian yang dilakukan di gunung Sadahurip ini adalah untuk mencari tahu sejarah gempa masa lalu dengan meneliti patahan yang ada di sana. Jadi, penemuan piramida garut ini adalah sebuah ketidaksengajaan.


Penelitian masih terus dilakukan guna memastikan adanya piramida garut ini. tim katastropik purba juga telah menggunakan metode Interferometric Syntetic Aperture Radar (IFSAR) yang mana dari gambar yang dihasilkan dapat dilihat sebuah gambar telanjang piramida di sana. Selain,itu dalam gambar itu juga dapat ditemukan adanya batuan yang lebih pendek di sekitar pyramid, batu pendek itu diduga merupakan piramida yang lebih kecil atau bahkan spinx seperti yang ada di Mesir. Penelitian dengan metode georadar dan geolistrik juga sudah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa ini bukanlah fenomena alam tapi merupakan murni buatan manusia atau man made. Selain itu, berdasarkan penelitian carbon dating umur batuan di Gunung Sadahurip sendiri lebih dari 10.000 tahun, Artinya kalau Piramida Giza di Mesir berusia sekitar 3.000 tahun sebelum masehi, maka piramida garut ini berusia lebih dari 10.000 tahun. Untuk tingginya, piramida garut ini diperkirakan memiliki tinggi 200 m, sungguh temuan yang luar biasa.



Saya pribadi berharap piramida garut ini adalah nyata dan bisa segera terkuak. Karena hal ini bisa menjadi bukti bahwa dahulu Indonesia adalah pusat peradaban dunia. Selain, itu ada sebuah buku yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan daratan atlantis yang hilang yang merupakan pusat peradaban dunia. Semoga piramida garut ini segera terungkap kebenarannya.
Intan Cahya Alfiana