Jumat, 02 Desember 2011

Warisan Terakhir Presiden Soekarno, Soeharto, dan Gus Dur yang Dilupakan Tokoh Masyarakat

Mungkin banyak tokoh yang lupa. Di Istana Negara tercatat sebuah dokumen penting. Catatan sejarah di mana tiga presiden Republik Indonesia meninggalkan warisan. Sebuah warisan sangat penting bagi seluruh anak bangsa, yang sama persis wujud dan nilainya. Sayangnya para petinggi negara dan tokoh masyarakat hanya mencatat, tapi enggan menerima warisan beliau-beliau. Ada apakah? Apakah karena masih dirahasiakan?

Sudah saatnya belajar menghargai dan mengambil hikmah.

Adalah kebetulan bahwa 3 mantan presiden sudah wafat: Bung Karno, Pak Harto, Gus Dur. Adalah lumrah mereka meninggalkan warisan untuk disimpan di dalam Istana Negara. Adalah bukan masalah jika kebetulan wujud dan nilai warisan sama persis. Adalah penting bangsa Indonesia mau belajar menghargai warisan yang mereka tinggalkan, lalu mengambil hikmahnya. Dan adalah wajib untuk berlega hati sekaligus wajib melupakan perbedaan!

A. Warisan Presiden Soekarno (Bung Karno): Seorang sipil, pejuang kemerdekaan, insinyur, presiden pertama, proklamator, pendiri bangsa, pencetus falsafah Pancasila, pendiri PNI, penguasa jama Orde Lama. Namun jatuh kekuasaanya di tengah jalan.

Apa hikmahnya? Bila mau jujur beliau jatuh bukan karena kritik dan serangan. Bukan itu sebab utamanya. Tapi karena TERLALU MEMANJAKAN Partai Komunis Indonesia. Rakyat cemas kemudian enggan membela ketika beliau dijatuhkan.
B. Warisan Presiden Soeharto (Pak Harto): Seorang angkatan darat, presiden kedua, penyandang gelar Bapak Pembangunan, pendiri Golkar, penguasa jaman Orde Baru. Juga jatuh kekuasaannya di tengah jalan.

Apa hikmahnya? Bila mau jujur beliau jatuh bukan karena kritik dan serangan. Bukan itu sebab utamanya. Tapi karena TERLALU LAMA berkuasa. Rakyat bosan kemudian enggan membela ketika beliau dijatuhkan.
C) Warisan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Seorang santri NU, presiden keempat, budayawan, intelektual, pejuang HAM dan demokrasi, pengayom kaum minoritas, ketua PKB dan PBNU, tokoh era reformasi. Di tengah jalan jatuh pula kekuasaannya.

Apa hikmahnya? Bila mau jujur beliau jatuh bukan karena kritik dan serangan. Bukan itu sebab utamanya. Tapi karena TERLALU BERANI mengambil kebijakan yang bersebrangan dengan aspirasi mayoritas. Sementara PKB cuma partai kecil di bawah PDIP dan Golkar. Rakyat jengkel kemudian enggan membela ketika beliau dijatuhkan.

Di sinilah catatan warisan 3 presiden di Istana Negara.

Meskipun tidak tertulis secara administratif dengan bukti fisik, ketiga presiden telah meninggalkan warisan penting. Yaitu berwujud PELAJARAN bahwa kejatuhan seseorang adalah akibat perbuatan sendiri. Bukan karena kritik, maupun kecaman, ataupun serangan.

Namun sayang seribu sayang para petinggi negara dan tokoh masyarakat enggan menerima, enggan belajar dari warisan tersebut di atas. KEBANYAKAN bersikap seperti itu.

Akibatnya mereka keranjingan bermain citra-citraan. Akibatnya kecanduan popularitas penuh tipu muslihat. Akibatnya ngambek bila dikritik. Akibatnya memusuhi siapapun yang melancarkan kritik. Akibatnya manja minta dikasihani dengan berjualan air mata di muka umum. Akibatnya rame rame berebut posisi menjadi pihak yang DIZALIMI.

Sebegitu lemah mentalitas mereka, apa yang diharapkan?

Maka jangan salahkan rakyat bila lama-lama ENEG atau muak menyaksikan mentalitas kerdil seperti itu. Mentalitas yang lahir dari budaya gemar jalan pintas, gemar berdusta, gemar memanipulasi ayat ayat suci, dan gemar mencari kambing hitam sebagai penyebab kegagalan.

Akhirnya kembali kepada sikap masing masing para petinggi negara dan tokoh masyarakat di semua lapisan. Apakah sudah lupa sejarah dulu antara Bung Karno dengan lawan-lawan politiknya sering sarapan pagi bareng. Mereka saling kritik tiap hari dan tetap rukun bersahabat sambil rajin bareng sarapan pagi.

Bila Anda sepakat dalam hal ini maka “diplomasi sarapan pagi” gaya Bapak Bangsa yang serupa “kopi darat” bagi netizen sangat relevan untuk dipelihara dan dilestarikan. Demi mengembangkan kerukunan di tengah perbedaan. Dan demi membiakan kebesaran jiwa di tengah suburnya kekerdilan jiwa dan sikap mau bener sendiri.
++

“Jika saya jatuh dari kedudukan apapun saya pastikan akibat ulah saya sendiri, bukan jatuh karena kritikan!”'

(Ragile).

Mengenal Pribadi Nenek Moyang Melalui Sejarah

Sebuah bangsa terdiri dari suku – suku yang bersatu dan menjadi keluarga besar yang bernama bangsa. Mereka disatukan dengan banyak hal yang menjadi tantangan, tanggung jawab dan musuh bersama.



Anak bangsa takkan mampu melewati masa – masa sulit dalam perjalanan kehidupan berbangsa, jika mereka tidak mengenal sejarah suku - suku, dan bangsanya. Tentang nenek moyangnya, ajarannya, ikatan moral, kepercayaan, nilai dan budaya yang membentuk karakter, sifat, kebudayaan yang menjaga mereka dari sistem kesukuan, sosial dalam peradaban.


Kerasnya kehidupan suku, dan lingkungan yang membentuk mereka adalah bagian dari terbentuknya watak dan sifat. Melahirkan aturan – aturan, norma – norma, kepercayaan dan kearifan lokal. Apakah itu bernama ajaran kebaikan atau pun yang bernama agama.



Sejarah bukanlah penjelasan sederhana mengenai sebuah peristiwa, kejadian, asal usul manusia, suku, peperangan, pertikaian dan pembunuhan. Ada banyak alasan dan kaitan yang berhubungan dengannya dan semuanya berhubungan satu sama lain. melihatnya dari salah satu satunya saja akan menghilangkan dan mengaburkan inti sejarah itu sendiri.


Sejarah lebih luas dari hanya sekedar sejarah itu sendiri. Tanpa penjelasan yang luas mengenai apa yang diceritakan, dituliskan melalui lembaran – lembaran lontar, kuburan, istana dan benteng – benteng. Sejarah akan mengalami kehilangan nilai dan kajian dari peristiwa itu sendiri. Karena dimensi sejarah adalah berbicara mengenai semua hal yang menjelaskan dari berbagai sudut pandang yang ada, seperti lingkaran kehidupan.



Tak seorang pun dapat memahami jalan sejarah jika ia meletakkan kepihakan membabi buta terhadap apa yang menganggu hatinya, berkaitan dengan apa yang diyakini, apa yang dipahami. Jika ia menjelaskan sejarah tanpa hati dan pikiran terbuka, jadilah sejarah hanya sebuah alat, alat untuk membenarkan yang salah dan membelokkan yang benar.


Sejarah hakikatnya tidakkan hilang, walau seribu usaha keji membelokkan kejadian yang benar, karena sejarah akan kembali terulang. Sejarah bisa saja di hapuskan, diganti atau diubah. Tapi suatu saat sejarah kembali lagi, kembali dalam bentuk sejatinya, yaitu peristiwa. Peristiwa bagian dari mengenal kembali sejarah. Ia akan disusun, ditulis dan ditelusuri kembali. Walau sejarah bisa disembunyikan, suatu saat ia akan kembali berbicara.


Banyak yang berbicara tentang sejarah, tak sedikit mereka berkomentar tentang sejarah, tapi hanya sedikit yang memahami sejarah sebagai sebuah ilmu yang lebih luas dari hanya sekedar penjelasan mengenai kejadian, waktu, tempat dan nama. Sejarah juga berbicara mengenai kegetiran, amuk masa, kepentingan strategis, pengaruh, agama, budaya dan juga kekuasaan. Apakah sejarah mampu menjelaskan semuanya? dan merangkai semua alasan dan sebab kejadian?.



Hidup berbangsa adalah hidup dalam perjalanan sejarah, sebagaimana nenek moyang hidup dalam kerukunan dan juga pertikaian. Sejarah juga berbicara tentang perebutan sumber – sumber kehidupan, tapi sejarah juga mengenalkan bagaimana kita berbagi sumber – sumber itu untuk kehidupan dan berkompromi dalam banyak hal.


Pribadi nenek moyang dapat dikenali dan dipelajari dari sejarah. Melihat kentalnya darah, asinnya keringat, kerelaan berkorban, tingginya cita – cita, kuatnya keinginan, kerasnya kemauan, sabar dalam penderitaan dan tabahnya dalam merangkai semua harapan, itulah energi yang tersimpan. Begitu juga dengan penghianatan, penghancuran, peperangan, pertikaian, konflik berkepanjangan. Karena sejarah seperti dua wajah yang berjalan kedepan dan juga kebelakangan.


Kita akan terus belajar sejarah, belajar tentang hati, pikiran dan jiwa nenek moyang. Belajar bagaimana kesalahan dan kebaikan, melihat sisi positif dalam setiap tindakan, dan berhati – hati dalam pertikaian akibat kurangnya pengetahuan dan pengalaman.



Sejarah adalah mengenal dan bagaimana menelusuri darah kehidupan, darah dari nenek moyang. Mencintai dan meletakkan dihati dan pikiran. Itulah sejarah … itulah nenek moyang. Harta yang paling berharga yang di tinggalkan, dalam setiap goresan peristiwa dan kejadian. Agar anak cucu – cucunya belajar dari kesalahan, dan keluar dari kebodohan, nenek moyang menulisnya dengan lembar – lembar peristiwa untuk pelajaran, untuk kita semua. Dan jangan biarkan sejarah berjalan dan tenggelam dalam kesunyian.


1322796861190791497


Plangnya aja ngga ke urus,
Arif godate

Penembakan Misterius : Bukti Sikap Represif Rezim Soeharto



Penembakan misterius atau petrus merupakan sebuah kasus yang terjadi pada zaman orde baru atau era Soeharto berkuasa. Kasus ini digolongkan sebagai kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia, karena mengadili seseorang tanpa melalui proses hukum dengan cara dibunuh. Akibat kasus ini, ketakutan para preman pada zaman itu sangat besar, karena mereka menjadi “sasaran tembak” pelaku petrus. Sistem dari penembakan misterius adalah menghakimi siapa saja yang dinilai sebagai pelaku kriminal atau kejahatan, seperti preman, perampok, bromocorah, anak jalanan, dan sejenisnya. Awalnya, program ini dijalankan sebagai Operasi Clurit yang diimplementasikan oleh Polda Metro Jaya, Jakarta untuk mereduksi angka kriminalitas yang dinilai berada di ambang kritis. Namun karena hasilnya cukup efektif, maka operasi ini diadopsi oleh daerah-daerah lain seperti Jawa Tengah dan Yogyakarta. Hasilnya, pada tahun 1983 tercatat 532 orang tewas, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Kondisi ini berlanjut sampai tahun 1985.



Penyebab utama dari peristiwa ini adalah terlalu kuatnya rezim pemerintahan Soeharto, sehingga segala macam cara dilakukan untuk mencapai tujuan pribadinya. Kasus ini juga mencerminkan sikap pemerintah yang represif. Orang-orang yang menjadi buruan petrus adalah oknum yang melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Soeharto. Ironisnya, salah satu saksi hidup menyebutkan bahwa oknum tersebut dulunya pernah dimanfaatkan Soeharto selama kampanye pemilu tahun 1982. Banyak yang mengindikasikan kasus ini dilakukan oleh aparat keamanan. Jika benar begitu, maka aparat keamanan seolah buta mata setelah merasakan keefektifan program Operasi Clurit, yang merupakan cikal bakal dari penembakan misterius. Banyak yang berpendapat bahwa Soeharto melakukan strategi ini untuk meneror siapa saja yang menentang kekuasaannya. Di samping itu, peran lembaga yudikatif seolah berada di bawah kontrol penguasa, sehingga kasus ini belum tuntas sampai sekarang. Secara umum, penyebab belum tuntasnya kasus ini adalah kerusakan sistem pemerintahan yang cenderung mendukung pendapat Soeharto tentang teror penembakan misterius.



Menurut pandangan saya, konsep menghukum pelaku kriminal adalah benar, namun segi aplikasinya ke dalam tindakan nyata sangat keliru. Yang saya tangkap dari kasus ini, sebenarnya yang ingin ditanamkan adalah ketegasan aparat keamanan dalam menangani kasus kejahatan. Dengan cara ini pula citra aparat keamanan di mata masyarakat menjadi disegani sekaligus ditakuti. Fakta korban tewas pada tahun 1983-1985 juga menimbulkan efek jera yang membuat para preman dan kawanannya “blingsatan”. Namun, cara eksekusi para pelaku kriminal ini sangat tidak manusiawi, mereka diculik, ditembak dalam keadaan mata tertutup dan tangan terikat, kemudian mayatnya digeletakkan di sembarang tempat. Kita semua mungkin sepakat bahwa kasus ini merampas hak-hak asasi dari para korbannya. Negara ini adalah negara hukum, bahkan hal itu sudah tercantum di UUD 1945 atau 43 tahun sebelum peristiwa ini terjadi. Jika memang terbukti pemerintah ada di balik semua ini, maka telah terjadi pelanggaran hukum yang sangat berat yaitu pelanggaran konstitusi.




Komnas HAM pernah mencoba mengumpulkan kesaksian dari beberapa sumber. Hal itu disampaikan oleh Bathi Mulyono, seorang saksi hidup atau lebih tepatnya mantan buronan petrus. Bathi menambahkan, menurutnya langkah lembaga ini seolah hanya sekedar melengkapi kepustakaan dan dokumen saja, tidak ada tindakan nyata selanjutnya. Proses hukum yang dilakukan Komnas HAM memang cukup rumit, tidak semudah kasus pelanggaran HAM lainnya. Bedanya kasus ini dengan kasus lain adalah pelaku penembakan yang masih misterius, karena tidak ada pihak yang mau mengklaim bertanggung jawab atas kasus tersebut. Semuanya serba tabu, sehingga penyelidik mengalami hambatan dalam memulai tugasnya untuk mendapatkan informasi yang akurat. Keadilan sangat membutuhkan adanya saksi, namun kesaksian perlu dikonfirmasi dan diolah agar didapatkan kesimpulan yang logis. Di sini keefektifan langkah Komnas HAM diuji, yaitu bagaimana memproses informasi dari saksi-saksi sebagai dasar untuk menentukan tindakan selanjutnya. Namun, pada kenyataannya, langkah ini terhenti dan tidak berkembang.



Mungkin bagi generasi muda sekarang, termasuk saya sendiri, cerita tentang kasus penembakan misterius hanya didengar melalui cerita orang tua, kakek, atau nenek yang memang hidup di masa itu. Letak kekuatan generasi muda bisa sebagai media pencari informasi yang efektif, karena sumber informasinya adalah orang-orang terdekat yang sekarang masih ada. Dengan kemajuan teknologi, generasi muda bisa saja membentuk grup-grup diskusi di dunia maya untuk saling berbagi informasi tentang kesaksian penembakan misterius, dan hasilnya bisa dilaporkan kepada Komnas HAM. Peran pemuda di sini adalah sebagai jembatan informasi antara narasumber dengan lembaga Komnas HAM, disertai dengan fungsi sebagai penyuplai informasi sehingga Komnas HAM tidak kehilangan arah dalam bertindak. Diharapkan dengan adanya sistem seperti itu bisa diperoleh titik temu yang bisa dijadikan bahan penyelidikan lebih lanjut.



Peristiwa seperti petrus, dan juga pelanggaran HAM lain merupakan bentuk dari ketidakpastian hukum. Secara sadar, manusia sepakat tentang adanya hak-hak asasi, namun terkadang kesadaran itu hilang saat seseorang bernafsu mencapai suatu tujan dan dipengaruhi oleh kondisi emosi. Sebuah ironi jika hukum dibuat oleh penguasa, dijalankan oleh penguasa, dan dilanggar oleh penguasa sendiri. Negara Indonesia menerapkan hukuman bagi pelanggaran sesuai dengan kadarnya, artinya kepastian hukum sudah jelas ada dan telah diatur. Pemerintah sebagai pemegang kekuasaan eksekutif seharusnya menjauhi sikap represif dalam menghadapi penolakan dari rakyatnya, karena negara ini menganut paham demokrasi, bukan otoriter. Salah satu indikator sitem demokrasi adalah menghukum seseorang melalui prosedur yang sah, tidak serta-merta merampas hak-hak asasi. Mekanisme penjatuhan hukuman bagi tindakan kriminal sudah diatur dalam pasal-pasal KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana). Menurut saya, efek jera bisa diperoleh asalkan aturan dijalankan secara tegas. Saran dari saya, Komnas HAM segera membentuk tim khusus pencari fakta sejarah serta segera pula mengembangkan jaringan komuniskasi, misalnya dengan forum diskusi pemuda yang tadi disebutkan. Langkah ini harus dilakukan sekarang juga, karena semakin lama jumlah narasumber dan saksi hidup semakin berkurang. Sebagai kontrol dan penyeimbang, diharapkan media massa berperan melakukan publikasi isu-isu terkini dari perkembangan kasus ini, agar masyarakat luas bisa ikut bersikap kritis.

Mohammad Achor

UFO Made in Indonesia Terbang dari Texas

Diawal tahun 1990an ada seorang wanita calon astronaut Indonesia yang bernama Dr. Pratiwi Sudharmono. Beliau dikabarkan menjadi salah satu wanita berprestasi mewakilkan Indonesia menuju ruang angkasa dengan kendaraan milik NASA.


Banyak orang Indonesia sangat bangga atas prestasi beliau sebagai calon astronaut Indonesia. Selain prestasi beliau, juga rencana keluar angkasa merupakan proyek pemerintah RI yang sangat bercitra dunia.

Tetapi sayangnya tidak banyak warga Indonesia yang paham tentang dunia angkasa serta alat transportasi menuju luar angkasa.



Sebagian anak bangsa tentu saja tertarik untuk memberitakan kemajuan teknologi luar angkasa. Dan berusaha membanggun TIM yang sangat kuat untuk membuat UFO.

Sebagai nara sumber dan TIM anggota, sudah dilayangkan surat kepada bapak BJ Habibie yang saat itu dikatakan sebagai Manusia Multidimensional. Dan beberapa waktu kemudian nama beliau dicantumkan sebagai anggota dari TIM teknologi.



Segera dengan segala keterbatasan, mulailah seluruh TIM membuat rancang bangun UFO.

Yah…anak bangsa Indonesia merancang bangun UFO.


Sungguh banyak anak bangsa yang terlibat dan semua nara sumber dicari dan harus selesai membuat UFO dalam kurun waktu tidak boleh lebih dari 3 bulan.

Artinya tiga bulan kemudian, UFO made in Indonesia sudah harus beredar di Indonesia maupun manca Negara.

Tidaklah mudah untuk menyusun dan menyelesaikan proyek UFO. Tetapi dengan kesungguhan niat dan jadwal kerja, akhirnya UFO made in Indonesia lahir dibulan Oktober 1992.



Yah… sekitar 19 tahun yang lalu.

Sungguh bangga anak bangsa telah melahirkan UFO dan akhirnya di “ambil” dan di bawa oleh bangsa Amerika ke Negara paman SAM.

Sampai saat ini dari kota Texas, terus dan terus… UFO made in Indonesia “terbang” melalui internet dan di download dari manca Negara.

Tetapi kami…. Sebagai anak bangsa….. merasa berhasil dan diakui dunia …. Bahwa kami telah berhasil membuat UFO berstandart Internasional.



Artikel ini saya tulis untuk menggugah para penulis kompasiana yang banyak berprestasi….


Semoga akan banyak Artikel dari TIM kompasiana yang juga berkualitas internasional dan dibawa keluar negeri.

Kami anak Indonesia…. Cinta bahasa Indonesia…. Menulis berkualitas dunia…



Semoga pula tidak ada lagi artikel SARA maupun HOAX maupun caci maki lagi di Kompasiana…

Sudah saatnya menjelang usia 3 tahun…. Penulis kompasiana berjalan dengan tegak, gagah, wibawa dan berbobot.

Selamat Ulang tahun yang ke 3….

Majalah AKUTAHU :


http://rapidlibrary.com/index.php?q=majalah+ufo

http://www.facebook.com/groups/112085202153498/

Bagi pembaca yang ingin lebih paham tentang ke lanjutan UFO, bisa di download di :

http://rapidlibrary.com/index.php?q=majalah+ufo

Menurut data :


http://en.wikipedia.org/wiki/MediaFire

Dokter Kusmanto

Asia Tenggara, Tanah Asal Peradaban Kuno Dunia

13227725311230280680


Hampir semua tulisan tentang sejarah peradaban menempatkan Asia Tenggara sebagai kawasan ‘pinggiran’. Kawasan yang kebudayaannya dapat subur berkembang hanya karena imbas migrasi manusia atau riak-riak difusi budaya dari pusat-pusat peradaban lain, baik yang berpusat di Mesir, Cina, maupun India.


Stephen Oppenheimer berpendapat lain. Dokter ahli genetik yang belajar banyak tentang sejarah peradaban ini malah melihat kawasan Asia Tenggara sebagai tempat cikal bakal peradaban kuno berasal. Munculnya peradaban di Mesopotamia, Lembah Sungai Indus, dan Cina justru dipicu oleh kedatangan para migran dari Asia Tenggara. Oppenheimer. Didukung oleh data yang diramu dari hasil kajian arkeologi, etnografi, linguistik, geologi, maupun genetika.



Rekonstruksi Oppenheimer diawali dari saat berakhirnya puncak Jaman Es (Last Glacial Maximum) sekitar 20.000 tahun yang lalu. Ketika itu, muka air laut masih sekitar 150 m di bawah muka air laut sekarang. Kepulauan Indonesia bagian barat masih Bergabung dengan benua Asia menjadi dataran luas yang dikenal sebagai Paparan Sunda. Namun ketika bumi memanas, timbunan es yang ada di kutub meleleh dan mengakibatkan banjir besar yang melanda dataran rendah di berbagai penjuru dunia.



Data geologi dan oseanografi mencatat setidaknya ada tiga banjir besar yang terjadi pada sekitar 14.000, 11.000, dan 8,000 tahun lalu. Banjir besar yang terakhir bahkan menaikkan muka air laut hingga 5-10 meter lebih tinggi dari yang sekarang. Yang paling parah dilanda banjir adalah Paparan Sunda dan pantai Cina Selatan. Paparan Sunda malah menjadi pulau-pulau yang terpisah, antara lain Kalimantan, Jawa, Bali, dan Sumatera. Padahal, waktu itu kawasan ini sudah cukup padat dihuni manusia prasejarah yang berpenghidupan sebagai petani dan nelayan. Bagi Oppenheimer, kisah ‘Banjir Nuh’ atau ‘Benua Atlantis yang hilang’ tidak lain adalah rekaman budaya yang mengabadikan fenomena alam dahsyat ini. Di kawasan Asia Tenggara, kisah atau legenda seperti ini juga masih tersebar luas di antara masyarakat tradisional.




Ketika banjir melanda, terjadi diaspora para penghuni kawasan ini. Mereka menyebar ke Barat hingga India dan Mesopotamia, ke Timur lalu menghuni Kepulauan Pasifik, dan ke Utara sampai ke Cina dan Jepang bahkan terus menyeberang ke Amerika lewat Selat Bering. Menurut Oppenheimer, diaspora ini cocok dengan rekonstruksi linguistik terbaru versi Johanna Nichols yang menyatakan bahwa Asia Tenggara sebagai pusat persebaran bahasa-bahasa dunia setelah akhir zaman Es. Ini tentu saja amat bertentangan dengan teori yang umum dianut, yang meletakkan tempat asal bahasa-bahasa Asia Timur (Tibeto-Burma, Tai-Kadai, Austroasiatik dan Austronesia) di timur Himalaya, tempat sungai-sungai besar di daratan Asia berhulu. Namun, Oppenheimer juga merujuk sintesis dari empat pakar arkeologi yang meyakini bahwa kawasan ex- Paparan Sunda adalah pusat diaspora manusia pada akhir zaman Es.



Petunjuk genetika pun membuktikan bahwa penduduk Asia Tenggara sudah menghuni kawasan ini paling tidak sejak akhir Kala Pleistosen, dan tidak banyak mendapat aliran gen baru dari daratan Asia. Oppenheimer yakin, ‘Orang Asli’ yang kini bermukim di Semenanjung Malaya adalah sisa penduduk asli Paparan Sunda yang ‘tetap tinggal di rumah’ ketika keluarga lainnya migrasi. Artinya, migrasi terjadi dari kawasan Kepulauan Asia Tenggara ke Daratan Asia, dan bukan sebaliknya. Jadi, migrasi penutur bahasa Austronesia pun bukan dari Cina Selatan-Taiwan ke Kepulauan Filipina-Indonesia lalu ke Pasifik dan Madagaskar seperti yang disintesiskan oleh ahli bahasa Robert Blust maupun ahli arkeologi Peter Bellwood. Justru dari Kepulauan Indonesia-lah, para penutur Austronesia berasal.



Bagi Oppenheimer, orang Sumeria yang menjadi peletak dasar peradaban di Mesopotamia adalah orang Asia Tenggara. Kesamaan benda-benda Neolitik yang muncul di Asia Tenggara dan Mesopotamia sekitar 7.500 tahun lalu menjadi salah satu bukti. Ciri fisik orang Sumeria yang bermuka lebar (brachycepalis) dan wajah tipikal ‘orientalis’ patung-patung wanita Sumeria bisa jadi bukti lainnya. Malahan, tokoh legenda Uthnapishtim, yang dalam wiracarita Gilgamesh dan daftar raja-raja Sumeria disebut sebagai satu-satunya orang yang selamat dari banjir besar, sehingga dianggap prototipe ‘Nabi Nuh’, tidak lain adalah personifikasi migran dari Asia Tenggara. Dalam legenda Babilonia, kedatangan migran Asia Tenggara direkam dalam kisah tujuh orang bijak yang datang dari laut (Timur) membawa berbagai keterampilan dan pengetahuan baru. Kisah seperti ini juga terdapat di Hindukush (pusat peradaban Indus kuno) dan dimuat dalam Buku Kematian Mesir kuno. Sementara itu, dalam berbagai varian, legenda ini masih tersebar luas di Kepulauan Nusantara hingga Pasifik.




Oppenheimer tidak berhenti sampai di situ. Ia mengungkapkan bahwa kisah bertema penciptaan Adam-Hawa hingga sengketa Kaen-Habel ternyata tersebar luas di Asia dan Pasifik. Di New Zealand, orang Maori menyebut wanita pertama sebagai ‘Eevee’. Dalam berbagai mitos di kawasan ini, manusia pertama dikisahkan dibuat dari lempung merah. Kisah sengketa dua saudara kandung juga populer di Papua Nugini dengan tokoh bernama Kullabop dan Manup. Karena itu, Oppenheimer yakin kisah Kejadian Dunia (Genesis) aslinya berasal dari Asia Tenggara, sehingga ia menganggap Asia Tenggara sebagai ‘Taman Firdaus’ (Eden in the East).


Teori hiper-difusionisme pun disusun dari paralelisme data arkeologi, organisasi sosial, religi, dan ciri etnografi lain yang terdapat di berbagai penjuru dunia (Trigger, 1989). Kalau dalam cara meyakinkan pembacanya, karya Oppenheimer ini mirip dengan karya-karya Eric von Daniken, yang menganggap peradaban manusia di bumi ini sebagai hasil transfer iptek dari mahluk angkasa luar !


Seperti von Daniken, Oppenheimer juga menggunakan penggalan-penggalan data arkeologi yang diramu dengan beragam hasil kajian ilmiah bidang lainnya. Gaya penyajiannya yang ilmiah populer membuat buku ini enak dibaca. Karya seperti ini dikenal sebagai pseudo-archaeology.

Membaca buku Oppenheimer memang mengasyikkan, khususnya bagi mereka yang berwawasan ‘posmo’. Nuansa dekonstruksi yang kuat dalam buku ini bisa membuat mereka sulit berhenti membaca. Hampir di tiap bagian ada kontroversi, yang kemudian dipecahkan dengan cerdik.. Apalagi, data yang dipakai amat mutakhir, termasuk data paling baru yang dikumpulkan si penulis sendiri saat ia praktek sebagai dokter di desa-desa terpencil Asia Tenggara dan Papua Nugini
Eden in the East, the Drowned Continent of


Southeast Asia

Stephen Oppenheimer

Hardback : Weidenfeld & Nicholson Ltd,


London, 1998

Paperback : Phoenix Books, 1999

(xvi, 560 hal. Illustrasi.)

“ASIA TENGGARA, TANAH ASAL PERDABAN KUNO DUNIA?”


Stephen Oppenheimer

Source:


Daud Tanudirja

Master of Arts, Doktor of Phylosophy, Staf Pengajar Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Syafiih Kamil

Ramalan 'Kiamat' Artefak Bangsa Maya Dibantah

Ahli kebudayaan Maya menyebut ramalan 'kiamat' itu sebagai misinterpretasi
Film 2012 (Film 2012)
Bangsa Maya diasumsikan pernah meramalkan bahwa 'kiamat' akan terjadi pada 21 Desember 2012. Asumsi ini berdasarkan ditemukannya penanggalan dan inskripsi bangsa Maya yang terdapat di sebuah prasasti tablet batu, di situs Tortuguero, Mexico.

Selain itu, arkeolog beberapa waktu lalu juga menemukan sebuah ukiran (atau mungkin relief) yang terbuat dari batu bata, yang menyebut mengenai ramalan bangsa Maya mengenai 'kiamat' pada tahun 2012. Artefak ini ditemukan di dekat reruntuhan Comalcalco. Adapun Comacalco memiliki keunikan, karena jarang kuil Maya yang terbuat dari batu-bata.

Tapi ahli mengenai kebudayaan Maya asal Jerman, Sven Gronemeyer, mengatakan ramalan mengenai 'kiamat' itu merupakan misinterpretasi atau salah pembacaan.

Menurut Gronemeyer, inskripsi yang ditemukan tidak terbaca secara lengkap, karena ada bagian yang mengalami kerusakan. Tapi, jika itu bisa dibaca, inskripsi juga tidak menyebut apapun mengenai hari akhir atau kiamat.

Berdasarkan pembacaan yang dilakukannya, Gronemeyer berpendapat inskripsi di tablet batu Tortuguero menjelaskan mengenai transisi era baru di kalender bangsa Maya, dan bukan akhir dunia.

Berdasarkan inskripsi Tortuguero, terdapat penjelasan mengenai apa yang akan terjadi di tahun 2012. Salah satunya adalah munculnya Bolon Yokte, dewa Maya yang bersifat misterius, yang selama ini dikaitkan dengan perang dan penciptaan. Walau inskripsi ini tidak ditemukan secara sempurna, inskripsi itu diduga menyebut kalimat: "Dia akan datang dari langit."

Tapi, menurut Gronemeyer, Bolon Yokte disebut sebagai figur yang melambangkan perubahan. Kesalahan pandangan terhadap kepercayaan bangsa Maya ini dituding Gronemeyer dilakukan oleh bangsa Barat.

Gronemeyer berpandangan, inskripsi memang menjelaskan kembalinya dewa bangsa Maya, Bolon Yokten di akhir periode ke-13 rotasi Baktun. Berdasarkan penanggalan bangsa Maya, 1 rotasi Baktun berlangsung selama 394 tahun, dan angka 13 merupakan angka sakral bagi bangsa Maya. Penanggalan bangsa Maya diperkirakan dimulai pada 3114 SM dan berakhir di Rotasi Baktun ke-13 pada 21 Desember 2012.

Tapi Gronemeyer membantah kedatangan Bolon Yokte menjelaskan tentang kiamat. Karena tak ada penjelasan mengenai kiamat di tanggal 21 Desember 2012. Bagian mengenai ramalan merupakan ramalan penguasa saat itu, Bahlam Ajaw, yang ingin merencanakan kedatangan dewa Bolon Yokte.

"Untuk petinggi Tortuguero, jelas bahwa mereka harus menyiapkan lahan untuk kembalinya dewa, dan Bahlam Ajaw akan menjadi penerima dewa itu di prosesi inisiasi itu," jelas Gronemeyer.

"Tanggal itu memiliki nilai simbolis, karena merupakan refleksi dari hari penciptaan. Ini merupakan kedatangan dewa, dan bukan berarti memiliki arti penting bagi manusia," lanjutnya.



Sebelumnya, Institut Antropologi dan Sejarah Nasional di Mexico kemudian mengatakan, 'kiamat' pada Desember 2012 merupakan misinterpretasi bangsa Barat dalam membaca penanggalan bangsa Maya. "Ramalan barat telah memelintir cosmovision (pandangan kosmis) dari peradaban masa silam seperti bangsa Maya."

VIDEO: NASA Deteksi Black Hole Sedot Bintang

Ilmuwan menjadi saksi mata fenomena yang terjadi setiap seratus juta tahun sekali.

Untuk pertamakalinya, para ilmuwan menjadi saksi mata fenomena menakjubkan ini (astronomynow.com)

Salah satu peristiwa paling langka di alam semesta telah disaksikan oleh para ilmuwan untuk pertama kalinya. Dikutip dari Daily Mail, 2 Desember 2011, sebuah lubang hitam yang maha besar (super massive black hole) diketahui telah menelan sebuah bintang. Fenomena ini sendiri lazimnya terjadi setiap seratus juta tahun sekali di sebuah galaksi.

Seperti diketahui, sebagian besar galaksi memiliki lubang hitam besar yakni ruang yang menyedot segala sesuatu di dekatnya dengan gaya gravitasi yang sangat kuat.

Untuk pertamakalinya, para ilmuwan berkesempatan menjadi saksi mata fenomena tersebut setelah Swift, teleskop milik NASA mendeteksi sejumlah semburan sinar-X dari bidang tenang di langit.

Tim peneliti dari Universitas Pennsylvania State dan Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics di Cambridge, Massachusetts, mengatakan, semburan tersebut kemungkin besar merupakan sisa-sisa bintang yang tersedot ke dalam lubang hitam besar yang terletak di jarak 3,9 miliar tahun cahaya dari Bumi.

"Analisis kimia dari semburan cahaya ultraviolet menunjukkan hal tersebut datang dari materi yang tersedot ke lubang hitam berukuran satu juta kali ukuran matahari kita," kata David Burrows, astronom dari Universitas Pennsylvania State University.

Lubang hitam atau biasa disebut dengan black hole diyakini lebih kuat dibanding sebelumnya karena penambahan massa dari penyerapan bintang. Penyerapan tersebut membuat lubang hitam tumbuh lebih besar hingga menjadi super-massive black hole. Super-massive black hole dapat mencapai ukuran hingga miliaran massa matahari.

Sebagai perbandingan, planet bumi memiliki ukuran bumi 1/332.950 dari massa matahari. Video black hole tengah menghisap sebuah bintang yang ditangkap oleh satelit Swift milik NASA dapat disimak di tautan berikut